Supriyadi PETA Kembali Bersaksi di Jogja, Ponorogo, Blitar, dan Surabaya

Masih saja orang tertatih-tatih mencari tahu sosok “Supriyadi PETA”. Hingga kini. Seperti kemarin di Jogja. Dua kesempatan diskusi buku Mencari Supriyadi terbitan Penerbit Galangpress digelar khusus untuk menuntaskan kedahagatahuan masyarakat tentang pelaku sejarah yang dilukiskan secara dramatis dalam backcover buku bestseller TB Gramedia se-Indonesia ini:

Blitar, 1945. Pada bulan Februari tahun itu sesuatu yang luar-biasa terjadi di sana: para sukarelawan Pembela Tanah Air (PETA) melakukan pemberontakan berdarah. Mereka melancarkan serangan militer terhadap tentara Dai Nippon. Korban berjatuhan di kedua belah pihak. Tetapi pemberontakan gagal. Meskipun demikian pemberontakan yang dipimpin oleh Shodancho Supriyadi yang gagah berani itu telah menjadi sumber inspirasi bagi perlawanan terhadap penjajah.

Masalahnya, di mana Supriyadi setelah pemberontakan itu? Kalau dia gugur atau tertangkap, mengapa tak ada bukti atau saksi mata? Tetapi kalau ternyata dia selamat dan hidup, mengapa tak seorangpun tahu di mana dia berada? Anehnya, Presiden Soekarno menunjuk Supriyadi sebagai Menteri Keamanan Rakyat dan kemudian Panglima TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Apakah itu berarti bahwa sebenarnya Supriyadi tetap hidup dan terus berjuang tetapi tanpa kita sadari?

Buku Anda ini bermaksud menawarkan kemungkinan jawaban. Bahan yang dipakai adalah bahan sejarah lisan. Sumbernya seorang mantan pejuang kemerdekaan yang konon mengetahui di mana Supriyadi berada. Menurut dia Supriyadi tidak gugur. Ia tetap hidup dan berkiprah sampai sekarang. Sampai sekarang? Betul. Begitulah menurut dia. Lewat buku ini Anda diundang untuk menemui dia dan mendengarkan tuturannya.

Andaryoko “Supriyadi” Wisnuprabu, pria sepuh 89 tahun, hadir kembali kemarin di TB Gramedia Malioboro Mall dan TB Gramedia Ambarrukmo Plaza. Didampingi penulis buku ini, Dr Baskara T Wardaya (sejarawan Universitas Sanata Dharma), dan moderator Mardiyanto (editor Penerbit Pustaka Marwa – Galangpress Group), pendirian Andaryoko tetap tidak berubah. Sejak deklarasi kesejatian identitasnya sebagai Supriyadi PETA ia kibarkan di TB Gramedia Pandanaran Semarang, Agustus lalu, ia tetap bersikukuh dengan pengakuannya. Cercaan dan kesangsian yang mencecarnya bertubi-tubi tetap membuatnya bergeming.

Baskara sendiri tetap pada pendiriannya untuk tidak memutuskan bahwa Andaryoko adalah Supriyadi. “Silakan masyarakat menilai sendiri,” tegasnya. Ia juga menjelaskan bahwa Supriyadi yang ini bukanlah Supriyadi Blitar yang anak Bupati Darmadi itu. “Supriyadi ini orang Salatiga, anak Pujokusumo, yang tidak ada hubungannya dengan Blitar. Geer aja mereka yang menuduh Supriyadi ini mengaku-aku sebagai Supriyadi yang itu,” tandasnya sembari menyebutkan bahwa Supriyadi Andaryoko ini memang mengaku sebagai pelaku pemberontakan PETA 14 Februari 1945.

Untuk memperkuat pengakuannya, oleh Penerbit Galangpress, Supriyadi Andaryoko akan diusung pagi ini ke Ponorogo untuk berbicara langsung di hadapan pengunjung pameran buku di kota reog tersebut. Sabtu esok, atas undangan warga NU dan Pemerintah Kota Blitar, Supriyadi Andaryoko akan memaparkan kesaksian hidupnya di kota Bung Karno itu. Di akhir minggu ini, pada Sabtu malam dan minggu siang, roadshow ‘klarifikasi sejarah’ akan dipungkasi di kota perjuangan Surabaya.

Akan seperti apakah perkembangan diskusi tentang Supriyadi ini? Silakan beli bukunya, baca, dan berbicaralah.(kun)

About these ads

One response to “Supriyadi PETA Kembali Bersaksi di Jogja, Ponorogo, Blitar, dan Surabaya

  1. Hendra Astian

    Shudancho Supiyadi memang masih hidup sampai sekarang. Tapi Supriyadi yang asli bukan Andaryoko, tapi Raden Supiyadi yang sekarang bermukim di Bandar Lampung. Semua bukti tentang dia berupa arsip2 yang masih disimpan dan ada sama dia sampai sekarang. Semua tanda-tanda tentang Supriyadi memang benar adanya. Setelah melakukan pemberontakan PETA, dia menghilangkan diri bersembunyi untuk menyelamatkan diri dari Jepang. Selain Shudancho Supriyadi, Bung karno (Soekarno) juga masih hidup sampai saat ini. Namun keduanya tidak ingin atau belum ingin mengungkapkan kebenaran yang sesungguhnya hingga Bangsa Indonesia benar-benar telah ambruk/hancur dan harus bangkit kembali. Di saat itulah mereka muncul untuk membantu rakyat Indonesia bangkit dari keterpurukannya. Semua rakyat Indonesia akan disejahterakan hidupnya dengan dana yang sampai saat ini masih tersimpan rapih berupa uang dan emas. Namun yang sangat disayangkan sekali, mengapa mereka belum mau juga menampakkan diri mereka untuk membantu Bangsa Indonesia ini saat sekarang ini. Salah seorang kerabat eyang Supriyadi (begitu sapaan beliau saat ini), pernah mencoba untuk melakukan ekspost diri eyang dengan merekam ataupun memotretnya. Namun secara irasional, diri eyang Supriyadi tidak ada dalam foto ataupun rekaman yang telah dilakukan. Sedangkan kerabat-kerabat eyang yang dipotret bersama eyang saat itu tetap ada, dengan posisi yang eyang Supiyadi tempatin saat itu terlihat kosong tidak ada eyang Supriyadi. Itu benar-benar “Ghaib” dan nyata tejadi. Begitu juga dengan foto eyang Supriyadi bersama Soekarno (yang diambil pada tahun 1999) yang dipajang di rumah eyang saat ini di Bandar Lampung tidak dapat diambil gambarnya untuk saya ekspost. Setelah dilakukan pemotretan terhadap foto mereka itu, hasilnya hanya lembaran kosong tanpa adanya wujud mereka. begitulah yang saya tahu tentang kebeadaan Supiyadi dan Bung karno (Soekarno).

    Mudah-mudahan persembunyian atau pengucilan yang dilakukan mereka segea berakhi dan mereka dapat membantu bangsa Indonesia cepat-cepat keluar dari keterpurukan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s