Mencintai dan Menggunakan Bahasa Indonesia

Sebagai bangsa, kita sudah sepakat memilih bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu. Sejak dicetuskan pada 2 Mei 1926 dalam Kongres Pemuda I, dan kemudian “disumpahkan” pada 28 Oktober 1928, bahasa Indonesia kemudian jatuh-bangun menjadi bahasa komunikasi di seantero nusantara. Bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi, juga bahasa pergaulan sehari-hari. Di Jakarta orang berbahasa Indonesia, di Ternate pejabat berpidato dengan bahasa Indonesia. Tua-muda pun berbahasa Indonesia.

Oleh negara, bahasa Indonesia ini kemudian dikawal sedemikian rupa supaya semakin merata dan memenuhi kaidah berbahasa. Ada proses pembakuan yang sistematis digulirkan. Hasilnya berupa Kamus Besar Bahasa Indonesia, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), Tesaurus Bahasa Indonesia, dan rujukan-rujukan berbahasa Indonesia lainnya, baik keluaran instansi pemerintah seperti Pusat Bahasa, maupun besutan linguis partikelir.

Sampai kini pun belum sempurna benar. Masih banyak cacat bahasa di sana-sini yang tak kunjung dilinguisterapi (linguisterapi: terapi berbahasa). Ambil contoh soal ‘k-p-t-s’ yang luruh-tidaknya saat bersetubuh dengan awalan ‘me-‘ masih riuh bergemuruh. Ada yang bilang seluruhnya luruh, ada yang sahut khusus serapan dari bahasa asing saja yang luruh.

Ups, padahal hanya sekira 20% bahasa Indonesia yang digunakan sekarang benar-benar asli.

Ups lagi, padahal mana ada bahasa asli Indonesia? Indonesia saja tercipta belum lama, ya seumur deklarasi pemuda itu, kok mau mengklaim bahasa asli-serapan. Seperti bahasa Ibrani, bahasa Indonesia adalah bahasa yang sebelumnya belum ada ketika kemudian dipakai sebagai bahasa resmi sebuah negara.

Lalu mau menyebut bahasa serapan? Banyak serapan yang belum ajur-ajer benar. Picingkan mata ke kata-kata ini: standar-standardisasi; objek-subjek-proyek. Ck ck ck, inkonsistensi itu masih jadi sariawan di lidah kita.

Meninggalkan Bahasa Indonesia?
Tentu saja tidak. Jangan biarkan bahasa ini mati muda. Biarlah penggunanya yang mati muda, memudar, sedangkan bahasanya memuda.

Semangat inilah yang disiangi oleh Forum Bahasa Media Massa (FBMM), yakni semangat untuk semakin mencintai bahasa Indonesia sebagai bahasa tutur dan tulis. Mencintai di mulut, mencintai di tangan. Berbicara dalam bahasa Indonesia, beraksara dalam bahasa Indonesia pula.

Zainal Arifin menegaskan semangat ini dalam kunjungan FBMM Daerah Istimewa Yogyakarta di kantor Penerbit Galangpress Group, siang ini. Menurut ketua forum yang sehari-hari bekerja di TVRI ini, peran FBMM adalah mengkampanyekan gerakan mencintai dan menggunakan bahasa Indonesia. Beranggotakan jurnalis, editor, dan pekerja media yang bergelut di ranah bahasa, FBMM hendak menjadi wadah pengembangan bahasa, baik bahasa nasional maupun bahasa lokal, baik bahasa lisan maupun bahasa tulisan.

“Dan FBMM tidak berpretensi menjadi polisi bahasa,” sergah P Ari Subagyo, ketua bidang penelitian dan pengembangan pada kepengurusan periode 2009-2012 ini. Lanjut Ari yang bekerja sebagai linguis di Universitas Sanata Dharma ini, meski di FBMM ada anggota yang menghendaki forum ini berperan sebagai polisi bahasa, namun fungsi kreasi berbahasa juga sebaiknya mendapatkan tempat. “Kajian bahasa bukan bersifat normatif, namun agar bahasa berkembang,” tandasnya.

Dengan pandangan seperti itu, bahasa Indonesia yang oleh beberapa kalangan diperjuangkan betul kebakuannya tidak akan membeku. Sebab, kebakuan berbahasa lewat bahasa tulis berpotensi menjauhkan kita dari orisinalitas berpikir kreatif. Dan ujungnya, bahasa Indonesia akan menjadi momok bagi penggunanya sendiri. Kalau ini terjadi, kekhawatiran Ari bisa semakin menyata, yakni terus merosotnya tradisi berpikir di masyarakat akibat rendahnya minat baca dan menulis.

Maka, peran FBMM yang juga mewadahi praktisi-praktisi usil, yakni praktisi yang selalu gatal mengeksplorasi dan mencoba-coba bahasa, bukan hanya memunculkan bahasa baru, melainkan memperkayanya. Banyak misteri bahasa, karenanya, yang bisa dibongkar forum.

Bertemu Penerbit Galangpress Group, irisan sinergi pun terbentuk. Sebagai praktisi bahasa, yang kerap bereksperimen dengan kekuatan frasa seperti “membongkar”, “menodong”, “kupas tuntas”, “cara pintar”, “kedahsyatan”, dll, Galangpress membutuhkan teman berdiskusi yang mencerahkan. Frasa-frasa itu sudah teruji “laku” dibeli masyarakat pembaca. Dengan bergandeng tangan, Galangpress dan praktisi bahasa lain bisa membidani lahirnya kata-frasa-idiom baru yang selama ini belum ada atau tertimbun lemak kemalasan bercas-cis-cus.

Dalam jangka panjang, sinergi berupa workshop, seminar, dan ajang pelatihan lain, juga bakal menggairahkan dunia kepenulisan yang kini miskin penulis. “Jangan sampai kita impor penulis,” tukas Julius Felicianus, Direktur Galangpress saat menyambut FBMM. Julius tidak mengada-ada melontarkan ancaman ini. Ia menyodorkan fakta, jumlah judul buku di Indonesia baru di kisaran 20.000 judul per tahun. Jika satu orang penulis produktif mengerami lebih dari 1 judul buku, dan sebagian buku lainnya adalah karya penulis luar yang diterjemahkan, maka jumlah penulis kita tidak sampai 5 (lima) persen dari total penduduk Indonesia. “Padahal,” Julius memunculkan fakta lain, “50% buku yang kami terbitkan ditulis oleh tim redaksi.” Wow, potret buruk!

Jogja, 26 Januari 2010
AA Kunto A
[aakuntoa@gmail.com; http://www.aakuntoa.wordpress.com]

::: Selamat kepada Penerbit Kanisius yang hari ini berulang tahun ke-88 :::

Workshop Film Dokumenter Bersama Fajar Nugros

gaya fajar nugros. foto: wahyu sigit

gaya fajar nugros. foto: wahyu sigit

Orang muda gudangnya kreativitas. Pada mereka, imajinasi masih telanjang, belum dibalut benang-benang norma yang membelenggu. Mereka masih liar, masih banyak ruang kosong. Mereka, sebagai anak zaman, punya cara sendiri untuk mengisi ruang itu.

Film dokumenter adalah salah satu tuturan yang mereka pilih. Media ini mereka pilih untuk merekam zamannya. Sebagai mata. Sebagai telinga. Sebagai hati.

Semangat itulah yang mewarnai workshop Cara Pinter Bikin Film Dokumenter di SMA Albertus, Dempo, Malang, Sabtu (3/10). Bekerja sama dengan Penerbit Indonesia Cerdas (Galangpress Group), workshop ini diikuti oleh 120 siswa kelas IPS. Fajar Nugroho, yang populer dengan nama Fajar Nugros, penulis buku dengan judul yang sama dengan tema acara, langsung hadir membimbing para siswa.

Nugros, yang mengawali karir sebagai sutradara film dokumenter secara otodidak sejak kuliah di Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, menemani para siswa untuk mengenal lebih dalam seluk-beluk perfilmdokumentarian. Ada 3 bagian yang ia sampaikan: pemahaman dasar film dokumenter, pemutaran film “Manusia Setengah Dewa”, dan pengenalan tentang kamera.

peserta melimpah. foto: wahyu sigit

peserta melimpah. foto: wahyu sigit

Di antara materi yang ia sampaikan, hal pokok yang menjadi penegasan Nugros adalah tentang betapa ide itu begitu mahal, plus betapa penting melakukan riset. “Proses pembuatan film dokumenter sangat ditentukan oleh kematangan bagian ini. Soal kamera ntar deh, itu gampang. Tapi perencanaan dan riset itu yang utama. Sehingga, misalnya bicara soal budgeting, semua terencana. Tidak ada yang tak terencana,” sutradara yang sering bekerja sama dengan sutradara Ayat-Ayat Cinta Hanung Bramantyo ini.

Menanggapi pancingan tersebut, antusiasme siswa sangat luar biasa. Sejak awal, gairah mereka untuk terlibat dalam pelatihan langsung terasa. Nugros, saat jeda makan, mengamini ini. “Anaknya pinter-pinter,” pujinya. Ide-ide pun bersahutan. Ada yang datar, ada yang serius, ada yang lucu, ada yang horor. Selain karena pinter, seluruh siswa memang sudah membeli dan membaca buku yang ditulis Nugros.

aa kunto a membuka acara. foto: wahyu sigit

aa kunto a membuka acara. foto: wahyu sigit

Salah satu tema horor yang mereka lontarkan adalah “lorong berdarah”. Tema ini muncul berdasarkan cerita-cerita mistik yang berseliweran di sekolah.

Ini faktanya. Di sebuah lorong yang menghubungan sekolah dengan pastoran,  terdapat ubin kuning yang ternoda bercak-bercak merah. Mirip darah. Persis di balik pintu masuk menuju pastoran. Bukan di jalan umum, sebagaimana tertera di tulisan samping pintu. Toh, ceritanya  sudah seperti menjadi milik umum.

Konon, bercak darah itu tidak bisa dihilangkan. Bahkan, ketika ubin tersebut diganti dengan yang baru, ubin yang semula bersih pun akan kembali ternoda darah. Bercak merah di atas ubin kuning.

Tak ada penjelasan resmi tentang cerita ini. Maka, ide “lorong berdarah” ini untuk merekam penjelasan-penjelasan dari pihak-pihak yang bisa dikutip pernyataannya.

Nugros membantu siswa mempertajam ide ini. Lewat pembuatan story line, Nugros menunjukkan bagaimana ide ini bisa menjadi film dokumenter yang kuat, tak sekadar menjadi film horor.

“Yang perlu dicatat, kekuatan film dokumenter ada pada FAKTA dan MOMENTUM. Latihannya adalah kalau ada kejadian-kejadian unik di sekitar kita rekam saja. Suatu saat bisa berguna. Sebab, momentum itu mahal, nggak bisa diulang,” tandas Nugros. “Dan, film dokumenter adalah pesan untuk masa depan,” simpulnya. [aaka/03102009]

Aparat Minta Jatah Parcel

Pasang status di facebook: barusan dapet telp dr seorang aparat hukum yg dulu membredel buku kami, “saya baca di koran, galangpress menyediakan parcel buku ya. ada jatah buat pimpinan kami kan?” NGGAK!!!

6 hours ago · Comment · Like / Unlike Alma Rahendra, Kawier Szabbo, Rosalin Kristiani and 9 others like this.

Dhison Vorenandri Dhison Vorenandri wrong answer pak : ada cukup di tebus seharga 1jt maaf he he he

Maria Noviati Ika Maria Noviati Ika haree gene…?

Kristupa Saragih Kristupa Saragih jatahnya buat pimpinan majalah Exposure aja

Johanes Koen Johanes Koen Kun, banyak uang-uang berhamburan dalam kuitansi-kuitansi palsu hanya untuk urusan dengan aparat. Institusi dan birokrasi di negeri ini belum bersih benar. Apa yang kau paparkan di atas kita sama-sama tahu hanya secuil kecil dari sebongkah besar kebusukan

Dodi Sarjana minta diSUAPi ya..

Bowo Nurcahyo Bowo Nurcahyo wakakakakak…….

Helena Fransisca kekekekeke…..hooh, setuju kuwi…tegas banget….bener-bener….

Sony Set aparat minta jatah buku? Kemajuan…! bravo…salut…eh tapi buku apaan? Bukan Kho Phing Hoo kan?

Indra Bayu Purnomo Sidhi huahahaha……jadi pengen ketemu aparat itu,Kun..

Papa Tan Den Kunto, ning kuwi dudu pejabat Indonesia to? Mesthi lah … !!! Huahahahaha… Huahahahaha…

Agung Arya kasih wae kun.. buku pelajaran PMP, buku tuntunan aklak, opo buku cara cepat mati…

Emmy Kuswandari Geli habizzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz……..Pejabat Mojopahit.

Hasto Abdi lha mbok diwenei ben rondo terpelajar sitik 5 hours ago

Purwani Diyah Prabandari kasih kun..pelajaran PMP. masih ada gak gak sih…ato kalo udha cetak, buku pelajaran anti korupsi

Fitria Debora ngguyu nganti meh tiba saka kursi aku …. wakakakakak ….

Niecken Dwi Hapsari daripada kasih buku mending kasih cermin aj.. biar ngilo ya mas..

Maftuhah Hamid stock jatah habis; stock yg dijual masih byk. silakan aparat pilih paket mana yg Anda disukai?

Agustinus Danardono kasih paket Darah AB wae..

Herry Gendut Janarto Breidel pipi kiri, berikan juga pipi yang kanan. Jadi, jangan dendem-dendem amatlah.

Taufik Yudhoyono Wirawan Wah … pimpinannya sudah sadar baca nih…..

Antonius Sigit Suryanto aparat nggragas…

Antonius Wahyu hehe… maju terus Galangpress…

Maftuhah Hamid jatahnya tinggal: Perkelaian Pelajar dan Tadarus Kehidupan

Pambudi Edi gek wes tobat 😀

Antonius Sigit Suryanto tambahi buku pacarku ibu kosku, penembak misterius,dibungkus nganggo ciduk wae…

Alfa Anindito Pratomo Kasih aja. Beri mereka buku2 mengenai pendidikan moral dan etika. Semoga mereka menjadi manusia bermoral….:d

Paulus Danang Yanri Hatmoko Kun, buntelana tai kucing dicampur tai-mu nganggo godong gedang, terus wadahi kardus bekas indomie bungkus karo kertas kado sing apik, terus kirimana nang omahe… ngono looo… iki meguru karo Kang Bram perihal ilmu tai dadi emas…

Krismariana Widyaningsih hahaha… mesakne, buku wae njaluk jatah gratisan… ora entuk THR po yo?

Alma Rahendra gak tau malu…

Sita Ardani Perwitasari hehehehe…ning dudu bojoku to ‘Gung…;-p

HendraNyoen Gagap GuLita . . . . .wkwkwk. . . . . Jan RAI TANPO DENGKUL!!!!

Henry Raymond Itu logika kekuasaan om. keluar dari situ ANDA TIDAK LOGIS. NGERTI TIDAK

Dian Prasasti mas kunto, bilang aja parcel dah habis.kalo bungkusnya masih ada. MAU….?!?

Aldi Jaw ijeh dendam

Devi Indriasari Whahaha… Ups..gak bole su’udzon yak?!? Sapa tau dah insap.. Di kasi aja.. Maksude di kasi tau aja dmana bs beli parcel bukunya Galangpress.. Hwakakakakk…

Anastasya Dina Setyowati kagak ade….

Parcel Buku Lebaran

pesan di 0274-554985 atau galangpress@jmn.net.id

pesan di 0274-554985 atau galangpress@jmn.net.id

Tradisi berkirim parcel seperti sudah melekat di sejumlah kalangan di Indonesia. Parcel menjadi tanda perhatian, tanda kedekatan, juga tanda penghormatan. Maka, orang berkirim parcel untuk sahabat, orangtua, dan relasi bisnis. Mereka berkirim di hari-hari raya, di hari ulang tahun, atau di hari-hari istimewa tertentu.

Parcel seperti sudah menjadi medium komunikasi yang khas. Satu paket parcel seperti mewakili ucapan “selamat ya”, “i love u”, “semoga bisnis Anda lancar”, “aku sahabatmu di kala suka dan duka”, “kami mendukung mimpi-mimpi perusahaan Anda”, dan masih banyak lagi. Maka, isi parcel pun beraneka ragam. Ada buah, kue kaleng, minuman ringan, sembako, dan banyak lagi. Umumnya parcel berisi barang konsumsi.

Galangpress sangat memahami tradisi ini. Parcel adalah salah satu kekayaan simbol masyarakat kita. Dan simbol-simbol itu telah disepakati sebagai sebentuk ungkapan yang tak terkatakan, namun meninggalkan kesan mendalam.

fresh from the oven. begitu ada pesanan, langsung diracikin. (foto: antarafoto.com)

fresh from the oven. begitu ada pesanan, langsung diracikin. (foto: antarafoto.com/dom/regina safri)

wakil direktur galangpress, ida prastiowati, sedang diwawancarai Indosiar, ANTV, dan Antara tentang parcel buku lebaran

wakil direktur galangpress, ida prastiowati, sedang diwawancarai Indosiar, ANTV, dan Antara tentang parcel buku lebaran

Melihat itu semua, Galangpress berinisiatif untuk menciptakan kreasi baru dalam berparcel. Ya, parcel buku. Sebagai penerbit, kami berpendapat bahwa buku merupakan bingkisan sangat istimewa. Selain mencerdaskan, buku adalah simbol keabadian–bukankah ini esensi dari persahabatan? Jika parcel lain akan habis dalam sekejap karena disantap dan diminum, parcel buku tak akan pernah habis meski dikudapi banyak orang. Buku adalah simbol kelanggengan hubungan. Maka, barang siapa hendak mengungkapkan pesan kelanggengan ini di Hari Lebaran, parcel buku adalah pilihan tepat. Usai bermaaf-maafan, dalam ruang batin yang fitri, hubungan baru yang lebih bersih akan lebih kekal.

Untuk pemesanan dan informasi, silakan hubungi Penerbit Galangpress di 0274-554985 atau galangpress@jmn.net.id. Harga spesial.[aaka/080909]

Buku untuk Korban Gempa Tasikmalaya

wakil direktur galangpress, ibu ida prastiowati, melepas mobil pembawa sumbangan buku

wakil direktur galangpress, ibu ida prastiowati, melepas mobil pembawa sumbangan buku

Bencana alam hampir selalu menghancurkan. Betapa pun secara fisik utuh, atau hanya sedikit rusak, namun bagi yang mengalaminya sama saja. Mereka akan merasa bahwa apa yang mereka miliki hilang. Inilah kehancuran psikis yang hampir selalu menimpa para korban bencana.

Demikian pula terhadap korban bencana gempa bumi yang menggetarkan sisi selatan Pulau Jawa pada 2 September lalu. Gempa berkekuatan 7,3 skala Richter dan berpusat di 142 kilometer barat daya Tasikmalaya, Jawa Barat, itu menghancurkan korban di mana-mana. Lebih dari 50 orang dilaporkan tewas, dan puluhan ribu rumah hancur. Kini, mereka bermukim di tenda-tenda dan tempat pengungsian lainnya. Baik anak-anak maupun orang dewasa berkumpul jadi satu.

Atas situasi seperti ini, Penerbit Galangpress Group bekerja sama dengan SOS Kinderdorf mengirimkan bantuan 2.500 buku ke wilayah bencana. Bantuan ini dimaksudkan untuk membangkitkan semangat para korban agar mereka tetap optimis pada masa depan. Buku adalah harapan, sebab di sana terbentang pengetahuan. Dengan membaca buku, para korban akan termotivasi untuk bangkit dari keterpurukan.

Berdasarkan pengalaman Galangpress pada peristiwa gempa bumi yang meluluhlantakkan Jogja dan Klaten pada 27 Mei 2006, pada hari-hari sesudah bencana, para korban selalu terhanyut dalam suasana duka yang mendalam, sesal yang menyanyat-nyayat karena tidak mampu menyelamatkan saudara, dan bayangan akan hari esok yang suram. Oleh karena itu, buku kami hadirkan untuk menjaga keseimbangan perasaan dan pikiran para korban, bahwa usai nestapa dan balada ini pasti akan ada suka cita. Dan suka cita itu ada pada buku-buku yang kami bawa.

Buat sahabat korban gempa di Tasikmalaya dan sekitarnya, tetaplah tegar. Mari bangkit bersama. Doa kami untuk Anda semua.

Menggali Manfaat Puasa

jadwal talkshow

jadwal talkshow

Begitu banyak manfaat puasa. Secara fisik menyehatkan. Secara ekonomis menghemat pembelanjaan. Secara spiritual menenteramkan rohani. Demikian kurang lebih simpulan dari Parade Diskusi Buku Kedahsyatan Puasa (Pustaka Marwa, 2009) bersama penulis M. Syukron Maksum yang digelar di Semarang dan Yogyakarta.

Diskusi buku ini persembahan Penerbit Pustaka Marwa selama bulan Ramadhan. Selain diselenggarakan di TB Gramedia, diskusi ini juga diadakan di kampus dan pondok pesantren. Antusiasme publik begitu besar. Selain hadir sebagai pendengar, mereka juga memborong buku ke-7 karya mahasiswa jurusan Pendidikan Matematika UIN Sunan Kalijaga ini. Alhasil, buku ini menorehkan catatan sebagai buku laris. Hanya dalam 2 pekan sejak penerbitannya, buku praktis ini mengalami cetak ulang.

Wajar saja jika pembaca menyukai buku ini. Selain praktis, karena tidak banyak mengulas teori-teori puasa, buku ini juga menghadirkan contoh konkret dari orang-orang yang menjalankan ibadah puasa. Ilmuwan besar seperti Michaelangello, Sokrates, dan Plato, disebutkan oleh Syukron, sudah menjalankan puasa jauh waktu sebelum agama memerintahkan. Mereka berpuasa atas kehendak mereka sendiri. Maka, cara berpuasa pun mereka yang menentukan.

AA Kunto A (kiri, moderator) dan M Syukron Maksum (penulis)

AA Kunto A (kiri, moderator) dan M Syukron Maksum (penulis) di TB Gramedia Malioboro Mall Jogja

suasana diskusi di TB Gramedia Sudirman Jogja

suasana diskusi di TB Gramedia Sudirman Jogja

Di samping tokoh besar, Syukron juga menghadirkan contoh dari orang-orang di sekitarnya. Intan, teman kuliahnya, contohnya. Menurut suami dari Irma yang baru sebulan menikah ini, Intan adalah contoh yang tepat untuk menggambarkan manfaat puasa. Intan seorang yang penyabar. Dalam situasi terdesak seperti apa pun, Intan selalu berhasil mengatasinya dengan kesabaran yang luar biasa. Usut punya usut, ternyata Intan menjalankan puasa Senin-Kamis.

Secara fisik, katanya, puasa juga berdampak positif bagi kesehatan. Puasa mengontrol pola makan. Jika pada saat biasa pola makan bisa sesukanya, maka pada saat puasa ada pembatasan. “Makanan itu baik bagi tubuh, sekaligus racun. Maka, puasa itu seperti turun mesin. Tubuh disegarkan,” ujar lelaki 24 tahun ini sembari menguraikan manfaat puasa-puasa sunnah di luar puasa Ramadhan.

Talkshow Kedahsyatan Puasa

talkshow di TB Gramedia Sudirman Yogyakarta

talkshow di TB Gramedia Malioboro Mall Yogyakarta

Penulis: M. Syukron Maksum

Penerbit: Pustaka Marwa, Yogyakarta

Ukuran: 130 x 200 mm, 148 halaman

Terbit: Cetakan I, 2009

Harga: Rp 22.000

Parade Talkshow Ramadhan “Kedahsyatan Puasa”:

  1. Selasa, 25 Agustus, pk 15.00-18.00, di TB Gramedia Pandanaran, Semarang
  2. Rabu, 26 Agustus, pk. 15.00-18.00, lesehan di Kampus UIN Sunan Kalijaga, Jogja
  3. Rabu, 26 Agustus, pk. 19.30-21.30, on air di Radio Pro2 102.5FM Jogja
  4. Selasa, 1 September, on air di Radio Female 103.7FM Jogja
  5. Rabu, 2 September, pk. 19.30-21.30, on air di Radio Pro2 102.5FM Jogja
  6. Kamis, 3 September, pk. 15.30-18.00, di TB Gramedia Sudirman, Jogja
  7. Jumat, 4 September, pk. 15.30-18.00, di TB Gramedia Malioboro Mall, Jogja

Sinopsis buku

Kedahsyatan Puasa

Jadikan Hidup Penuh Berkah

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 183).

Puasa adalah perisai. Puasa melindungi diri dari kejelekan dunia dan siksa akhirat. Banyak rahasia yang terkandung dari ibadah puasa, baik yang wajib maupun sunnah. Di antara rahasia yang terkandung adalah puasa dapat menguatkan jiwa, mendidik kemauan, menyehatkan badan, mengenal nilai kenikmatan, dan merasakan penderitaan orang lain. Selayaknya kita melakukan amalan-amalan yang terbaik saat berpuasa.. Dan orang yang bbisa merasakan manfaatnya tentu saja bagi mereka yang melaksanakannya dengan ikhlas, sungguh-sungguh dan istiqamah, dengan satu titik tekan utama, demi mendapatkan ridha dari Allah Swt. sehingga dapat meningkatkan derajat takwa serta menjadi manusia yang fitrah.

Buku Kedahsyatan Puasa – Jadikan Hidup Penuh Berkah ini mengungkap rahasia besar di balik puasa dan memberikan resep-resep tentang amalan apa yang harus dijalankan, agar dapat menemukan hakikat puasa yang sesungguhnya. Puasa yang penuh berkah. Bukan puasa yang sia-sia, yang hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja.

Dalam buku ini bukan hanya membahas tentang puasa Ramadhan.. Namun, dengan lengkap dibahas juga tentang puasa-puasa sunnah, seperti puasa Senin Kamis, puasa hari-hari Putih, puasa Muharram, puasa Sya’ban, puasa Rajab, puasa Zulqa’dah dan Zulhijjah, puasa Arafah, puasa Syawal, puasa Dalail, dan puasa Daud. Dilengkapi juga dengan 30 doa mustajab untuk menambah khasana doa kita di hari-hari yang suci selama Ramadhan.