Membela Pak Harto

Oleh Baskara T Wardaya [baskaramu@yahoo.com]

Dosen Sejarah di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta;

Kontributor Buku Menguak Misteri Kekuasaan Soeharto (GalangPress, 2007)

Sejak episode terakhir sakitnya mantan Presiden Soeharto, ada dua fenomena sosial-politik yang menarik. Pertama, sejumlah pelaku politik beramai-ramai memuji Pak Harto secara publik. Meski tidak terkait sakitnya, “jasa-jasa” Pak Harto dengan riang mereka sebut-sebut.

Mereka juga “berlomba” mengunjungi Pak Harto sambil berhasrat diliput media sebanyak mungkin. Kebetulan sejumlah media juga dengan senang hati memenuhi hasrat itu.

Fenomena kedua, bersamaan dengan itu, tampak sejumlah pelaku politik berusaha mendesak supaya proses hukum terhadap Pak Harto dihentikan. Alasannya, kasihan Pak Harto jika harus diadili mengingat beliau dinyatakan sakit. Fenomena kedua ini menarik karena sebenarnya mereka tahu, prosedur medis dan prosedur hukum itu dua wilayah yang berbeda.

Paham betul

Bagaimana “membaca” kedua fenomena itu? Tentu ada banyak kemungkinan. Kita baca fenomena kedua lebih dulu.

Dalam fenomena ini terbaca, tampaknya orang lupa siapa sebenarnya Pak Harto. Maksudnya, orang tidak ingat bahwa Pak Harto adalah seorang pemberani. Sejak masuk jajaran tentara kolonial Belanda (KNIL) tahun 1940 lalu bergabung dengan dinas latihan militer Jepang tahun 1942, sudah kelihatan, Pak Harto bukanlah seorang penakut.

Berhadapan dengan maut dan ketidakpastian sudah merupakan bagian hidup sehari-hari Pak Harto. Pada masa Perang Kemerdekaan (1945-1949) Pak Harto juga ikut bertempur melawan Belanda, termasuk dalam pendudukan kota Yogyakarta tahun 1949. Setelah itu Pak Harto turut berjuang merebut Irian Barat dari Belanda di awal tahun 1960-an.

Jika Pak Harto tidak pernah takut menghadapi Jepang atau Belanda, mungkinkah dia takut “hanya” untuk berhadapan dengan proses hukum bangsanya sendiri? Tentu tidak. Seorang pemberani seperti Pak Harto pasti tidak akan gemetar hanya karena mau dihadapkan ke pengadilan, apalagi pengadilan dari bangsa yang telah ia layani sejak ia berkuasa tahun 1966. Pak Harto tahu, pengadilan adalah forum yang sah dan sehat untuk membuktikan diri apakah seseorang itu secara hukum bersalah atau tidak. Artinya, ada kemungkinan setelah diadili seorang tertuduh dinyatakan tidak bersalah.

Pak Harto juga tahu, yang mau diadili itu bukan Pak Harto sebagai pribadi, melainkan Pak Harto sebagai seorang pejabat publik. Pak Harto paham betul, seorang pejabat publik tidak perlu takut mempertanggungjawabkan keputusan dan tindakan publiknya kepada masyarakat. Pak Harto paham itu.

Memanfaatkan keadaan

Itu sebabnya kita jadi berpikir, jangan-jangan yang takut pada proses hukum dan pengadilan atas Pak Harto itu bukan Pak Harto sendiri, tetapi para kroninya. Para kroni itu takut, jika sampai Pak Harto diadili, merekalah yang akan kena. Mereka takut ketahuan bahwa selama ini telah menggunakan kuasa dan pengaruh Pak Harto demi kepentingan sendiri. Itu sebabnya orang-orang itu bersikeras agar Pak Harto jangan sampai diadili. Semua itu dilakukan bukan demi Pak Harto, tetapi demi diri sendiri.

Kini kita baca fenomena pertama. Sejumlah pelaku politik beramai-ramai memuji Pak Harto secara publik, berebut mengunjungi, dan sambil meninggalkan rumah sakit berhasrat untuk diliput pers guna membela Pak Harto. Sekilas tampaknya mereka ini memuji dan membela Pak Harto sebagai bukti bakti. Meski demikian, jangan-jangan yang sedang mereka puji, bela, dan beri bukti bakti bukan Pak Harto, tetapi diri mereka sendiri.

Kita tahu, dalam keadaan sakit Pak Harto tidak terlalu membutuhkan pujian, pembelaan, atau bukti bakti. Yang diperlukan Pak Harto adalah kesehatan dan kebahagiaan bisa kembali menemani anak-cucu.

Pertanyaannya, mengapa para pelaku politik itu sibuk melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak sedang dibutuhkan Pak Harto? Sekali lagi, jangan-jangan karena orang-orang itu sebenarnya sedang memanfaatkan keadaan Pak Harto demi kepentingan sendiri.

Tidak takut

Tentu tidak semua orang yang mengunjungi Pak Harto itu sedang melayani diri sendiri. Banyak di antara mereka datang berkunjung didasari niat tulus dan murni. Meski demikian, tetap penting disampaikan sikap kritis terhadap para pelaku politik yang atas nama seorang pribadi yang sedang berjuang melawan sakit dan usia lanjut, menggunakan kesempatan dalam kesempitan untuk melayani diri sendiri.

Sikap kritis juga perlu karena dengan begitu kita menjadi lebih ingat, meski tampak erat-terkait, sebenarnya ada bedanya antara prosedur medis dan prosedur hukum; antara kepentingan seseorang yang sedang sakit dan kepentingan para kroni yang sedang memanfaatkan; antara mengikuti tren politik sesaat secara latah dan kesediaan berpikir secara kritis.

Semoga sebagai bangsa yang pernah dididik dan dilayani oleh Pak Harto selama 32 tahun, kini kita siap menjadi bangsa yang semakin mampu berpikir kritis, termasuk terhadap kepentingan sendiri.

Kita berdoa untuk Pak Harto dan untuk keberanian bangsa ini agar menjadi bangsa yang tidak takut pada proses hukum. Kita tahu, di negeri ini setiap warga negara berdiri sama tinggi di mata hukum. Siapa pun orangnya.

Sumber: Kompas, 17 Januari 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s