Mencari-cari Alasan Memaafkan Soeharto

[artikel ini diambil dari milis jurnalisme dan dimuat atas izin penulis. semoga menginspirasi Anda]

Oleh Arya Gunawan [a.gunawan@unesco.org] Penulis

Tinjauan kritis terhadap buku Soeharto, The Life and Legacy of Indonesia’s Second President (An Authorised Biography), Marshall Cavendish 2007, 376 halaman, oleh Retnowati Abdulgani-Knapp.

Penulisan biografi tak terlampau berbeda dengan penulisan buku jenis lainnya, kecuali bahwa biografi memberikan perhatian kepada sosok tunggal, menempatkan sosok tersebut pada konteks yang lebih luas melalui interaksi sang tokoh dengan berbagai peristiwa dan dengan tokoh-tokoh lainnya. Ada “beban” tambahan bagi seorang penulis biografi, terutama berkaitan dengan kemungkinan munculnya pertanyaan mengenai motif yang mendasari penulisan. Untuk menampilkan seorang tokoh yang hampir tak memiliki kontroversi dalam hidupnya pun tetap membawa risiko, misalnya munculnya kekaguman dan glorifikasi berlebihan. Apalagi jika tokoh yang ditampilkan adalah sosok yang “mendua”, dalam arti jumlah orang yang memuja lebih-kurang seimbang dengan jumlah orang yang mengecam. Jika penulis tampil memihak dan membela, maka karyanya akan dicap sebagai sebuah sarana untuk pencucian masa lalu yang tak begitu bersih dari tokoh yang ditampilkan.

Kerangka berpikir seperti inilah yang hendaknya digunakan oleh setiap pembaca buku biografi terbaru mantan Presiden Soeharto, Soeharto, The Life and Legacy of Indonesia’s Second President (An Authorised Biography), ditulis oleh Retnowati Abdulgani-Knapp, (puteri mantan Menteri Luar Negeri di zaman Presiden Soekarno, Roeslan Abdulgani). Retno yang bermukim di Bangkok, adalah lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia yang sempat bekerja di bidang perbankan di Amerika Serikat, dan kini bergiat mengelola perusahaan konsultansi bisnis. Ini bukunya yang kedua, dan menambah deretan buku tentang Soeharto yang hadir lebih dahulu, antara lain Anak Desa (karya OG Roeder, 1972), Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya (karya Ramadhan KH dan G. Dwipayana, 1989), dan Suharto, A Political Biography (R.E.Elson, Cambridge University Press, United Kingdom, 2001). Sebagai sebuah karya tulis, terbitnya buku setebal 376 halaman ini tentu sah-sah saja, dan tetap bisa dianggap membawa kegunaan dalam hal bertambahnya satu lagi kajian mengenai sosok Soeharto. Namun jika merujuk kepada isinya, muncul sederet pertanyaan yang layak diajukan, sebagaimana yang akan diuraikan lebih jauh dalam bagian berikutnya dari tinjauan ini.

Pembelaan

Sejak awal membaca buku ini, pembaca yang kritis tentu akan mengambil posisi ekstra hati-hati, karena beberapa faktor: pertama, sosok Soeharto adalah sosok yang kompleks, dengan riwayat hidup yang panjang, terutama dengan perannya yang pernah sangat sentral dalam penggalan sejarah bangsa Indonesia; kedua, sebagian dari kompleksitas tadi diwarnai oleh kontroversi; dan ketiga karena tampilan awal buku ini sendiri.

Untuk ihwal terakhir ini, setidaknya ada dua hal yang perlu dicatat, yaitu: pertama, tercantumnya kata-kata “an authorised” pada bagian judul. Ini menunjukkan bahwa sang penulis mendapatkan otorisasi alias izin dari Soeharto. Artinya, hampir dapat dipastikan bahwa isi buku mendapatkan persetujuan Soeharto, atau persetujuan dari pihak keluarga, jika kita percaya bahwa kondisi kesehatan Soeharto sudah jauh menurun sehingga tak memungkinkannya memeriksa sepenuhnya isi buku. Ini membuat seorang pembaca kritis akan mengambil ancang-ancang untuk bersikap lebih kritis lagi, sebab hampir mustahil sebuah biografi yang diotorisasi seperti ini bisa memuat kritik yang paling tajam dari sang penulisnya.

Lalu selain kata-kata “an authorised” tadi, sebuah kutipan yang dicantumkan di kulit buku depan bagian dalam buku ini juga sudah bisa menjadi petunjuk awal kemana kira-kira buku ini akan mengarah. Kutipan itu berasal dari ucapan Richard Webb, bekas diplomat Inggris yang bertugas di Indonesia,1999-2001, berbunyi: “…sadly, it was his children’s greed that precipitated his downfall, but he has left a tremendous legacy for Indonesia and his people.” (“…sedihnya, keserakahan anak-anaknyalah yang memicu kejatuhannya, namun dia telah meninggalkan warisan yang luar biasa bagi Indonesia dan rakyatnya.”).

Ada lima bab di buku ini: Distant Dreams in Kemusuk, Building the Nation, Sailing into the Sunset, The Foundations, Reflections. Di tengah-tengah buku, antara halaman 137-154, ditampilkan foto-foto Soeharto dalam berbagai peristiwa. Di bab pertama, penulis mengisahkan kehidupan Soeharto sejak dilahirkan, dibesarkan, melewati masa remaja, hingga berhasil meraih jabatan puncak setelah melewati sejumlah peristiwa penting seperti peristiwa Yogyakarta tahun 1949, operasi Mandala di Irian Barat, hingga pertarungan politik yang melibatkan Partai Komunis Indonesia (PKI), Angkatan Darat, dan Presiden Soekarno, yang berpuncak pada peristiwa G-30S/PKI.

Dalam bab kedua, penulis memaparkan berbagai upaya yang dilakukan Soeharto dalam membangun bangsa Indonesia yang saat itu memang sedang berada dalam posisi sulit, baik secara politik, apalagi dari segi ekonomi. Soeharto menerapkan strategi pembangunan yang membuka pintu bagi bantuan dan investasiasing, pembentukan tim ekonomi yang mendapat julukan “mafia Berkeley”, penyusunan dan penerapan kebijakan ekonomi yang berpusat pada pertanian (sebagai bagian tak terpisahkan dari diri Soeharto yang lahir dan dibesarkan di lingkungan petani), pelaksanaan program-program sosial seperti Keluarga Berencana, pembentukan yayasan-yayasan yang menurut sang penulis buku ini dilandasi pada niat untuk membantu meningkatkan kesejahteraan rakyat namun menggunakan jalur yang non-negara.

Jika di dua bab pertama tak banyak fakta baru yang terungkap, maka tiga bab berikutnya sebetulnya memiliki peluang untuk lebih memikat, karena pada bab-bab tersebut penulis bisa menyuguhkan sebuah cakrawalayang belum banyak diketahui orang. Namun peluang ini tak dimanfaatkan optimal oleh penulis karena kuatnya kesan bahwa penulis menempatkan diri dalam posisi membela dan memberikan pembenaran terhadap sejumlah hal yang selama ini menjadi sumber kontroversi di seputar diri Soeharto. Termasuk pula dalam bab Foundations dimana penulis melakukan pengecekan langsung tujuh yayasan terbesar yang dibentuk Soeharto, namun informasi yang kemudian disajikan lebih sebagai sebuah upaya pembelaan terhadap yayasan-yayasan tersebut. Pembelaan terhadap yayasan-yayasan ini berarti juga pembelaan terhadap Soeharto karena praktis yayasan-yayasan itulah yang kini merupakan satu-satunya pintu masuk yang tersisa untuk membawa Soeharto (dan para kroninya) ke muka hukum.

Sikap penulis untuk tampil sebagai pembela ini antara lain dipicu oleh pesan sang ayah yang ingin agar penulis meletakkan posisi Soeharto selaku seorang bekas pemimpin bangsa ini pada konteks yang tepat, karena bagaimanapun Soeharto memiliki jasa yang tidak kecil. Di samping itu, ada pula “motif pribadi” penulis, karena Soeharto sedikit banyak telah berjasa mempertemukan sang penulis dengan Hubert Knapp, pria Belanda yang kini menjadi suaminya. Kalau tidak karena Soeharto, Hubert mungkin tidak akan pernah berkunjung ke Indonesia dan karenanya tidak akan pernah berjumpa dengan sang penulis. Ini dicantumkan penulis di bagian ucapan terima kasih di awal buku, “He was the one who, from the start, had the foresight to look for the positive traits in President Soeharto. Hubert is right: without President Soeharto in the country’s driving seat, he might never have come to Indonesia for his work assignment and we would never have met.” (“Dialah yang dari awal sekali memiliki pandangan ke depan untuk mencari sisi positif dalam diri Presiden Soeharto. Hubert benar: tanpa Presiden Soeharto duduk di kursi pengendali Indonesia, dia boleh jadi tak akan pernah datang ke Indonesia untuk pekerjaannya dan kami tidak akan pernah bertemu.”).

Motif semacam ini membuat penulis sulit untuk terelakkan dari dua hal: di satu sisi memberikan penekanan pada hal-hal positif tentang apa yang telah dilakukan Soeharto (menurut pendapat subyekti sang penulis), sementara pada saat yang sama mencoba mencari permakluman terhadap hal-hal yang oleh sebagian anggota masyarakat dianggap negatif melekat pada diri Soeharto. Sang penulis bahkan melakukan ini secara eksplisit, termasuk lewat kalimat-kalimat berisi permohonan kepada pembaca agar berbagai kesalahan Soeharto dapat dimaafkan. Kalimat bernada memohon seperti ini bermunculan di berbagai bagian dari buku ini, terutama terutama pada bab penutup, Reflections.

Namun sayangnya – di mata para pembaca yang obyektif dan kritis — upaya permohonan ini tidak dilengkapi argumentasi yang kuat dan masuk akal, sehingga sulit untuk meyakinkan pembaca yang obyektif dan kritis tadi. Sang penulis tampak melakukan seleksi lumayan ketat terhadap fakta yang hendak dipaparkan di buku ini apabila itu terkait dengan hal-hal kontroversial menyangkut diri Soeharto. Dengan kata lain, penulis hanya memaparkan hal-hal yang kira-kira bisa ditemukan jawabannya sehingga diharapkan bisa mengubah persepsi pembaca mengenai hal-hal kontroversial tadi.

Misalnya saja soal tuduhan korupsi berkaitan dengan penyelundupan gula yang dilakukan Soeharto saat menjabat sebagai Pangdam Diponegoro tahun 1959. Kejadian ini yang membuat Seoharto dicopot sebagai Pangdam oleh Nasution yang ketika itu menjabat sebagai KSAD. Soeharto kemudian dikirim ke Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (SSKAD) di Bandung. Sang penulis kemudian memaparkan, saat di Bandung itulah Gatot Soebroto (ketika itu menjabat sebagai Wakasad) melakukan pemeriksaan ulang terhadap kasus ini, dan ternyata tuduhan korupsi yang ditimpakan pada Soeharto itu tak terbukti sama sekali.

Berbagai kontroversi lain mengenai diri Soeharto juga dihadirkan oleh si penulis, mulai dari soal Supersemar, skandal korupsi di Pertamina, peristiwa Lima Belas Januari (Malari) di tahun 1974, kelompok Petisi 50 yang mengambil posisi sebagai opisisi di awal 1980-an dan sejak saat itu terus menjadi penentang keras Soeharto, soal pandangan Soeharto mengenai demokrasi (disebutkan oleh penulis bahwa Soeharto – juga Soekarno –sama-sama percaya pada demokrasi namun bukan sepenuhnya seperti demokrasi Barat), tuduhan korupsi yang dilakukan berbagai yayasan bentukan Soeharto, hingga ke kegiatan bisnis anak-anak Soeharto yang menurut penulis dianggap menjadi titik-awal kejatuhan Soeharto, hingga ke silsilah keturunan Soeharto. Kemudian penulis menyediakan jawaban terhadap berbagai kontroversi di atas, kendati sebagian besar jawaban tersebut sulit untuk memuaskan pembaca yang kritis terhadap Soeharto. Misalnya saja, mengenai kegiatan bisnis anak-anak Soeharto. Menurut sang penulis Soeharto tak mampu mengawasi dan mengendalikannya lantaran berbagai kesibukannya menjalankan tugas sebagai Presiden. Pada saat yang sama istrinya, Tien Soeharto, juga disibukkan dengan berbagai kegiatan sosialnya sehingga sama seperti Soeharto, tak dapat mengawasi sepak terjang anak-anak mereka.

Naif

Lalu mengenai kontroversi di seputar berbagai yayasan yang dibentuk Soeharto. Untuk menjawab ini, penulis bahkan menyediakan satu bab khusus. Namun upaya penulis untuk membuktikan bahwa tak ada yang salah dengan yayasan-yayasan tersebut, tampak sangat sederhana dan naïf. Di sana digambarkan bahwa sang penulis bertemu dengan pengurus dari tujuh yayasan, dan mendapatkan data bahwa yayasan-yayasan tersebut membayar pajak dan memiliki aliran dana yang tercatat jelas untuk kepentingan orang banyak, sehingga penulis menyimpulkan bahwa tiada yang salah dengan keberadaan dan praktek dari yayasan-yayasan tersebut. “In fact, one positive finding of my research is that over 950 mosques have been built, thousands of orphanages have obtained financial assistance and thousands of students have received scholarships, in addition to contributions towards the building of hospitals, schools, health centres and the like.”

Kesimpulan yang juga tak kalah naïf muncul di berbagai bagian lainnya dari buku ini. Misalnya saja saat sang penulis bercerita mengenai ajakan yang diterimanya dari Soeharto untuk berkunjung ke Istana Kalitan di Solo (hal. 323). Penulis melukiskan rasa kecewanya karena apa yang dijumpainya di sana tak sesuai dengan kabar burung yang selama ini didengarnya, bahwa Kalitan mirip istana-istana di Eropa: memiliki pintu dan jendela dengan kusen bersepuh emas, lampu-lampu kristal yang diimpor dari Praha menggantung di langit-langit, dengan galeri yang menyimpan lukisan berharga jutaan dollar. Namun kenyataannya istana tersebut jauh dari kemewahan versi kabar-burung tadi.

Pada halaman sesudahnya (hal. 324), penulis menggambarkan bahwa dia tidur di kamar yang biasanya ditempati oleh Tommy Soeharto. Saat terbangun, Soeharto bertanya kepadanya apakah tidurnya nyenyak. Penulis menjawab, “No, because I was busy looking for the gold hidden under Tommy’s bed the whole night. We had a good laugh and I was, in fact, relieved that there was no proof of the gold…” (“Tidak, karena sepanjang malam saya sibuk mencari-cari emas yang disembunyikan di bawah ranjang Tommy. Kami berdua tertawa renyah, dan saya merasa lega karena cerita mengenai emas itu ternyata tidak terbukti…”).

Ada sejumlah kontroversi lain yang sebetulnya melingkupi sosok Soeharto, yang oleh penulis tak disinggung sama sekali, atau hanya disinggung sambil lalu, misalnya saja rincian soal Supersemar, rincian mengenai tuduhan bahwa Soeharto terlibat dalam pemberontakan G-30S/PKI (sang penulis hanya menyodorkan fakta yang sudah diketahui secara luas yang mengindikasikan bahwa Soeharto tak terlibat, bahwa pada malam terjadinya penculikan terhadap para jenderal, Soeharto tengah menjaga Tommy yang dirawat di rumah sakit karena tersiram air panas), bahkan juga soal yayasan yang tak ditelisik lebih jauh dan lebih kritis oleh si penulis. Tak ada juga rincian mengenai berbagai tuduhan pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi saat Soeharto berkuasa, seperti di Aceh, Timor Timur, Kedungombo, Nipah, Talangsari, Tanjungpriok, hingga ke kebijakan penembak misterius (Petrus). Lalu juga soal soal berbagai tuduhan KKN yang terkait dengan Soeharto dan keluarganya serta orang-orang dekatnya, kontroversi di seputar pembangunan Taman Mini yang memicu gelombang protes di awal tahun 1970-an, atau juga soal latar belakang lahirnya Petisi 50 yang hanya disinggung sekilas sehingga tak menyajikan gambaran yang lengkap betapa kritis sebetulnya pandangan para tokoh oposisi yang tergabung dalam Petisi 50 terhadap kebijakan Soeharto.

Tak ada juga bahasan yang cukup argumentatif mengenai pengekangan terhadap kelompok-kelompok gerakan Islam. Di bidang demokrasi dan kebebasan berpendapat tak disinggung secara memadai mengenai ketertutupan di bidang informasi dan media, yang antara lain berwujud dalam pemberangusan media massa terkait dengan peristiwa Malari 1974, gerakan mahasiswa tahun 1978, ataupun yang terkait dengan kasus pembelian kapal eks Jerman Timur yang berujung pada ditutupnya tiga media di tahun 1994.

Apakah penulis tidak tertarik dengan topik-topik ini? Atau tidak siap dengan jawaban untuk merayu hati pembaca agar bagi yang kritis terhadap Soeharto bergeser sedikit menjadi bersimpati padanya, dan agar yang telah simpati menjadi tambah cinta?

Pertanyaan atas beberapa fakta

Buku ini mengandung beberapa fakta yang terkesan tidak berkesesuaian. Salah satunya adalah mengenai kapan persisnya si penulis menyiapkan karyanya ini. Di halaman 241 disebutkan bahwa sang penulis mendapatkan persetujuan dari Soeharto tanggal 8 Juni 2005, saat penulis berkunjung dengan ayahnya untuk mengucapkan selamat ulang tahun ke 84 pada Soeharto. “It was during that visit that Pak Harto agreed that I should write this book, especially to clarify the concept underlying the foundations he had built. He appeared to have been convinced by my father’s last words: ‘Mas Harto, let her write the book for Indonesia’s youngest generation, so that they may understand our history from our perspective.” (“Pada saat itulah Pak Harto setuju bahwa saya harus menulis buku ini, terutama untuk menjernihkan konsep di balik pendirian sejumlah yayasan yang dibangunnya. Tampaknya dia berhasil diyakinkan oleh kata-kata terakhir ayah saya, ‘Mas Harto, biarlah anak saya menulis buku ini bagi generasi muda Indonesia, sehingga mereka akan mamahami sejarah kita dari sudut pandang kita.”).

Sementara itu, di halaman 275 disebutkan bahwa si penulis sudah mengunjungi Museum Purna Bhakti Pertiwi di bulan Desember 2004, sebagai salah satu sumber risetnya untuk menyusun buku ini. Museum Purna Bhakti Pertiwi dibangun atas prakarsa Tien Soeharto, antara tahun 1987 hingga 1992 untuk menyimpan suvenir yang diberi berbagai pihak untuk Soeharto dan tak muat jika disimpan di rumah Jalan Cendana. Artinya, riset untuk buku ini telah dilakukan oleh si penulis enam bulan sebelum dia mendapatkan persetujuan dari Soeharto.

Selain itu, penulis juga menyebutkan (hal 300-301) bahwa pada tanggal 24 November 2004 (hari ulang tahun ke-90 Roeslan Abdulgani), dia bertolak dari Jakarta sore hari menuju Yogyakarta, untuk menghadiri acara peluncuran buku lain yang ditulisnya, The Falling Dreams (buku tentang kisah hidup Roeslan). Pada bagian ini dipaparkan pula pernyataan sang sopir taksi yang membawa sang penulis ke bandara Soekarno-Hatta, yang sepanjang jalan memuji-muji Soeharto, bahwa di masa Soeharto sang sopir tak pernah mengalami masalah untuk menyekolahkan anaknya. Saat berlangsung acara peluncuran buku keesokan harinya di hadapan hadirin yang sebagian besar mahasiswa, seorang peserta bertanya buku apa yang sedang ditulis, “..and I replied that it was about Pak Harto…“ (hal 304). Ini menunjukkan bahwa buku Soeharto ini sudah disiapkan sebelum sang penulis memperoleh persetujuan langsung dari Soeharto (yang baru diberikan oleh Soeharto tanggal 8 Juni 2005 itu).

Ketidakcocokan fakta juga muncul dalam hal seberapa dekat atau seberapa berjarak sebetulnya hubungan Roeslan Abdulgani dengan Soeharto. Pada halaman 293, di bawah subjudul Friendships, penulis seakan enggan jika sosok Roeslan dianggap dekat dengan sosok Soeharto. Menurut sang penulis, ayahnya tak bisa dekat dengan Soeharto karena ayahnya dianggap sebagai kroni dan loyalis Soekarno. ”…it was not surprising that Pak Harto and my father were never politically close…”, bahkan saat Roeslan dipercaya Soeharto menjadi Kepala BP7. “Certainly, my father had met with Pak Harto as the President on a regular basis, but the meetings had been official and formal. Even though my father was appointed his advisor, their relationships had been lukewarm during that period of time.” Namun anehnya, di kulit belakang bagian dalam dari buku ini pembaca bisa menemukaan kalimat, “Her father, Indonesian statesman Roeslan Abdulgani, had a close, personal dan professional relationship with President Soeharto.”

Kuat dugaan, kedekatan dengan sang ayah, yang juga berakibat pada kedekatan dengan Soeharto, membuat sang penulis memiliki posisi yang dilematis: di satu pihak dia kelihatan ingin dekat untuk meyakinkan bahwa dia mendapatkan bahan dan data kelas satu, namun di lain pihak ingin terlihat berjarak supaya bisa mengurangi kecurigaan pembaca mengenai motif penulisan buku tersebut, bahwa buku tersebut ditulis bukan sebagai sarana membela subyek utama yang ditulisnya. Namun setelah membaca buku ini, kesan seperti itulah yang tak terhindarkan muncul ke benak pembaca yang kritis.

Apalagi di berbagai bagian buku ini, dan terutama sekali di bab terakhir Reflections, sang penulis memohon secara langsung, agar Soeharto bisa diterima dan diakui sumbangsihnya. Tentu sangat berat beban yang dipikul si penulis karena untuk bisa menggugah pembaca supaya permohonannya tadi didengar, diperlukan argumentasi yang sangat kokoh. Dari sisi inilah upaya sang penulis tampak tidak begitu meyakinkan, sehingga akan sulit bagi pembaca yang kritis untuk menerima permohonannya. Seperti yang sudah diketahui luas, sejumlah pihak masih menyuarakan tuntutan agar Soeharto tidak dimaafkan secara otomatis, melainkan harus melewati proses pengadilan terlebih dulu.

Serahkan pada sejarah

Seorang penulis tentu sah-sah saja mengambil posisi memihak. Pembacalah yang kemudian akan menilai tepat-tidaknya posisi yang diambil si penulis tadi. Dalam hal ini, saya menilai bahwa sang penulis buku ini semestinya mempertimbangkan dengan saksama untuk mengajukan permohonan tadi. Sejarah mengajarkan bahwa seorang pemimpin hampir selalu dinilai dari apa yang dia tinggalkan di masa-masa akhir kekuasaannya, dan cenderung melupakan apa yang pernah disumbangkan sang pemimpin di paruh terdahulu dari hidupnya. Ini dirumuskan dengan tepat oleh pepatah lama dari khasanah Melayu “karena nila setitik, rusak susu sebelanga”. Keadaan semacam ini telah dialami oleh, sebutlah saja misalnya, Soekarno. Sumbangsih besar Soekarno tersaput bayang-bayang krisis kepemimpinan dan krisis politik yang harus dialami Indonesia di penghujung kekuasaan Soekarno.

Contoh yang lebih mutakhir adalah apa yang menimpa Tonny Blair. Sepanjang satu dekade Blair menjalankan roda pemerintahan Inggris, hampir seluruh lini kehidupan masyarakat Inggris mengalami kemajuan yang mengagumkan, mulai dari ekonomi, pendidikan, pelayanan kesehatan. Namun di sepertiga bagian ujung karirnya sebagai PM, yakni sejak Inggris ikut terlibat dalam Perang Irak 2003 yang tak kunjung usai hingga kini, Blair harus menanggungkan “kutukan” dari pepatah “karena nila setitik” tadi. Banyak ulasan kritis-obyektif dari para penulis dan wartawan terkemuka dunia mengenai Tonny Blair menjelang pengunduran dirinya, 27 Juni 2007. Hampir seluruh ulasan itu satu suara: bahwa Blair nyaris menjadi salah satu dari sedikit pemimpin legendaris Inggris; namun keterlibatannya dalam Perang Irak bagai telah menggerus berbagai pencapaian penting yang telah dibukukannya.

Dalam kaitan dengan biografi Soeharto ini, akan lebih bijak jika Retno Abdulgani selaku sang penulis menggunakan pendekatan yang tidak memohon, melainkan menyerahkan kepada pembaca untuk memberikan putusan. Pendekatan seperti inilah yang lazim dilakukan para penulis biografi, misalnya Philip Short dalam Mao, A Life (1999), biografi mengenai pemimpin Cina, Mao Tse Tung (1893-1976). Di buku setebal 702 halaman ini, pada bab terakhir yang berjudul Epilogue sang penulis terhindar dari kesan meminta pembaca untuk memahami sosok Mao. “Mao ruled for twenty-seven years. If the past, as he believed, is indeed a mirror for the present, will the twenty-first century mark the start of a third Chinese golden age, for which Maoist dictatorship will have opened the way? Or will it be his fate to be remembered as a flawed colossus, who brought fundamental change on a scale that only a handful of others had managed in all the years of China’s history, but then failed to follow through?” (hal 633). Kalimat terakhir sang penulis di halaman 634 juga menegaskan posisi netral yang dipilihnya: “History is laid down slowly in China. A final verdict on Mao’s place in the annals of his country’s past is still a very long way off.”

Penilaian terhadap Soeharto sebaiknyalah diserahkan kepada sejarah, bukan melalui permohonan yang diupayakan dengan susah-payah seperti yang tampil lewat buku biografi terbarunya ini.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s