Eurico Guterres: Kick Andy yang Tak Nge-kick

Buku anyar Penerbit Galangpress Pembantaian Timor Timur (2008) karya Joseph Nevins dibagikan kepada penonton di studio dan penonton di rumah yang beruntung. Klik Kick Andy untuk mendapatkan buku gratis, atau klik Galangpress untuk pemesanan langsung ke penerbit. Hanya Rp 50.000. Baca buku editan Stanley (Komnas HAM) ini untuk mencerap perspektif lain dari tayangan semalam.

Kick Andy Metro TV semalam”Demi Merah Putih” menghadirkan bintang tamu Eurico Guterres, mantan Wakil Panglima Pasukan Pejuang Integrasi Timor Timur. Penampilannya masih tetap sama: berambut panjang diikat di belakang, dan bercambang. Pembawaannya juga relatif kalem. Episode ini mengingatkan pada dua episode jauh sebelum ini yang mengundang Wiranto dan Prabowo, secara terpisah, sebagai tamu. Kick Andy tampak sangat perhatian pada kasus terpisahnya Timor Timur dari Republik. Bukan dari aspek politik an sich, melainkan aspek kemanusiaan. Sayang, episode-episode tersebut, termasuk semalam, tidak semenarik episode Xanana Gusmao dan Mayor Alfredo. Aspek kemanusiaannya tidak tergali. Guterres, sebagaimana Wiranto dan Prabowo, piawai dalam mengemas pengalaman masa lalunya lewat pernyataan-pernyataan retoris. Tema “Demi Merah Putih” justru mengganjal Kick Andy untuk menghadirkan nilai-nilai yang lebih universal ketimbang sekadar jargon-jargon nasionalisme, cinta tanah air, atau demi bangsa dan negara. Guterres tampak sangat gagap ketika Andy F Noya menodongkan pertanyaan, “Apakah Anda pernah membunuh orang?” Tidak pernah, katanya. Lalu siapa yang melancarkan pembunuhan di Timor Leste waktu itu, siapa pula yang memerintahkan pembunuhan kala itu, jika pimpinannya saja mengelak? Sayang, Andy gagal mengorek lebih dalam pertanyaan ini. Padahal, jika Guterres mau menjawab dengan hati pertanyaan ini, sejatinya justru akan membuat pemirsa mengacungkan hormat kepadanya, seperti saat ia menyerahkan diri untuk diadili kala itu. Akan baik juga pernyataannya untuk proses rekonsiliasi dua bangsa yang terus bergulir pasca melempemnya rekomendasi KKP Indonesia-Timor Leste tahun ini. Tema “Demi Merah Putih” telah menggiring acara semalam, juga pemirsa, untuk tergesa-gesa mengamini bahwa Guterres memang sosok yang perlu dikagumi, dihormati, dipahlawankan, karena pernyataannya yang sepihak dengan kita, Indonesia. Nyaris tidak ada yang menggugah hati. Tangisan Guterres saat ditanya soal almarhum Abilio Soares pun berhenti sebatas air mata saja. Memang membuat terharu, tapi tidak meninggalkan kesan apa-apa. Kesan ini muncul karena, dalam berbagai literasi, seorang Guterres, dalam peran politiknya saat itu, tidak bisa disederhanakan pada situasi seperti semalam. Apalagi ia akan mencalonkan diri menjadi anggota parlemen di Senayan. Timor Leste masih menyisakan banyak pertanyaan untuk dijawab Guterres sebagaimana banyak digugat dalam buku Pembantaian Timor Timur karya Joseph Nevins ini. Untuk dijawab…(aakuntoa@gmail.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s