Aksara = Martabat

Wuiiiiihhhhh, padat dan siap! Itu kesan pertama ketika masuk ke Balai Bahasa Yogyakarta di Jl. I Nyoman Oka 34 pukul 09.20 WIB tanggal 21 Oktober 2008, kemarin. Ibu-ibu dan bapak-bapak guru yang berpakaian PNS gaya lawas lengkap dengan tas slempangnya mendominasi pelataran bangunan ini. Ya sudah, kami yang berpakaian rada nyate ini mencoba menghampiri meja administrasi yang bertuliskan GURU. Kami bukan kalangan guru… jadi ke manakah langkah kami harus berhenti? Maju sekitar 6 meter memasuki gedung, rupanya ada satu meja lagi bertuliskan tamu dan undangan.

Nah ini dia, meja ini tempat kami harus menuliskan nama di secarik kertas presensi yang menyatakan siapa kami dan dari instansi mana kami berasal. Kami mendapatkan selembar kertas ukuran 6 cm x 6 cm. Untuk apa ya? Begitu pikirku. Setelah naik ke lantai dua tempat acara telah berlangsung, (ya ampun, ternyata acara ini sepertinya sudah mulai dari tadi) kami menyodorkan kertas kecil tadi dan diberikannyalah kepada saya sebuah map lengkap dengan isinya yang agak tebal dan sebuah pena, alat penting untuk merekam pembiacaraan yang mungkin sudah usang akibat berkembangnya teknologi recorder belakangan ini. Oh ada lagi! Sebuah kardus yang sepertinya berisi snack dan segelas aqua yang terpisah, keluar dari kardus. Teman nikmat memahami sastra siang ini.
Kami, aku dan Kunto, masuk ke dalam ruangan yang kelihatannya telah terisi penuh, sementara seorang bapak ada di podium sedang berbicara tentang balai bahasa. Kami duduk di kursi pada baris kedua dari belakang (sebenarnya tiga sih, karena ada satu baris lagi yang mepet ke tembok belakang). Lumayanlah untuk mengintip, kadang melongok dan minimal mendengarkan pembicara di ujung depan sana. Kata orang, tempat-tempat ini juga cukup strategis untuk ngobrol dengan samping kiri-samping kanan ketika enggan menyimak omongan menjenuhkan di panggung depan, seperti yang dilakukan oleh 3 orang di belakang kami (yang ternyata dilakukan sepanjang acara). Cuma satu kalimat yang nyantol, balai bahasa memiliki pengharapan bahwa bahasa yang kita pakai kini nantinya menjadi ekspresi seni yang tidak memalukan bagi para penggunanya.
Sarasehan Kebahasaan dan Kesastraan, Yogyakarta 21 Oktober 2008 begitu tertulis di backdrop. Kok bukan kesusastraan ya? Tapi sudahlah…ini kan Balai Bahasa, mana mungkin salah, iya toh? Oh ya, saya juga baru tahu kalau bulan ini adalah bulan bahasa. Serasa hidup di abad Ken Arok saja kebegoan saya yang kelewat batas ini (dilihat dari profesi dan porsi seorang editor lho).
Ini dia yang dari tadi pingin saya bagikan ke teman-teman, apa yang dibicarakan oleh Prof Dr Sapardi Djoko Damono, yang tersohor itu. Untung beliau yang mendapat giliran pertama berbicara. Jujur karena sejak ditawarin ikut sarasehan, nama itulah yang membulatkan tekad nimbrung ke acara ini.
Pandangan tentang siapakah yang dianggap bermartabat mengawali pembicaraan. Pertanyaan yang sulit dijawab…tapi dalam makalahnya, penyair kita ini membeberkan bahwa aksara atau bahasa yang dibukukan atau tulisan atau sastra adalah salah satu tolak ukur penilaian dunia akan martabat suatu bangsa. Tak berhenti Profesor ini mengatakan bahwa Mahabarata atau Ramayana, dan cerita wayang lainnya, diambil dari negara Barat (Bharat=India) dan kita tidak malu mencuri cerita itu, kemudian mengolahnya, lengkap dengan bumbu budaya Indonesia yang menghapus sisi cinta Arjuna yang rada ugal-ugalan. Akhirnya cerita ini menjadi milik kita, bangsa Indonesia. Cerita ini hasil penerjemahan moyang kita, dari satu sumber, yang kemudian nilai-nilainya ditransfer dalam bentuk cerita editan dan kita terima sampai saat ini.
Dari dulu terdapat diskriminasi bahwa bangsa yang bermartabat adalah bangsa yang mampu mewujudkan aksara. Jadi, mereka yang sudah menghasilkan karya tertulis (lettered) dianggap sebagai bangsa yang berbudaya (cultured). Mungkin ini yang membuat kita tidak malu-malu lagi ‘memiliki’ karya tertulis bangsa lain supaya kita dianggap sebagai bangsa yang bermartabat.
Sikap kritis, analitis dan teoritis terhadap suatu karya lebih bisa berkembang karena karya tersebut muncul dalam sebuah tulisan. Bagaimana orang akan mengkritisi karya dengan lebih dalam jika karya itu hanya lisan saja? Sejurus diucapkan, kita berlalu dan lupalah kita akan lontaran kata-kata tadi. Coba baca puisi ini:
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana: Dengan kata yang tak sempat diucapkan Kayu kepada api yang menjadikanya abu
Aku ingin mecintaimu dengan sederhana: Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Kalau karya ini hanyalah omongan seorang Sapardi di tahun 1989 tanpa ada bukti tertulis, siapakah yang akan mengulanginya apalagi menggali kedalaman arti deretan kata-kata bermakna di atas, hingga detik ini. Bangsa Indonesia yang kaya budaya ini sebenarnya telah mengembangkan budaya bercerita lisan, tapi sekali lagi bukan dalam bentuk teks, contohnya Kancil Nyolong Tumin (eh Timun), cerita ketoprak yang bejibun dan segudang cerita lain yang biasa kita dengar ketika masih kanak-kanak. Nah, itu yang sangat disayangkan.
Di luar negeri, fragmen, opera, film didasarkan dari skenario yang dipelajari oleh para pemainnya. Skenario termasuk juga bentuk sastra kan? Begitu juga seharusnya ketoprak yang dilakonkan dan cerita wayang yang dibuat oleh dalang-dalang. Dari mana asal film Ayat-Ayat Cinta dan Laskar Pelangi yang terkenal itu, yang katanya sampai membuat banyak kelenjar mata menderaskan air mata? Dari buku kan? Ini lho pentingnya sastra atau tulisan dalam berbagai bentuk, sebab sastra tidak bisa dipisahkan dari seni lainnya dan menjadi bagian yang penting untuk membentuk nilai-nilai yang dianut bangsa, meskipun sastra tak pelak membawa ideologi dari pengarangnya, penerbit bahkan politik yang kala itu menguasai negeri. Beliau bertutur kisah Hanafi dalam Salah Asuhan mengandung maksud dan nilai penting tentang otoritas Belanda di Indonesia. Atau Laskar Pelangi yang kata Prof Sapardi (sungguh saya mendengar beliau mengatakannya dengan tegas) bahwa film ini adalah karya promosi yang luar biasa, sekali lagi karya promosi. Ia tak menyebutkan LP merupakan karya sastra… pastilah ada ideologi lain terbawa ketika film ini hendak dimunculkan sebagai salah satu yang best seller di negeri ini.
Catatan di atas sedikit saja dari banyak sari yang saya hisap di balai bahasa. Saya sendiri jadi berpikir bahwa betapa pentingnya kata-kata dan makna yang selama ini kita terbitkan. Ternyata peran yang kita emban selama ini memiliki dampak yang begitu luas, hingga pada titik mengangkat martabat. Tidak hanya sebagai warna tapi sanggup mempengaruhi bangsa. Siapa kira?(dasusiwi_yd@yahoo.co.id)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s