Berbahasa, Bersastra, Bermartabat

bermartabat, butuh komunikasi dua arahbermartabat, butuh komunikasi dua arah

bermartabat, butuh komunikasi dua arah

Atraksi berbahasa menjadi makanan sehari-hari kami, editor Penerbit Galangpress Group. Pengertian atraksi bisa bermacam-macam. Pertama, tindakan akrobatif untuk menyelamatkan naskah penulis dari keterjungkalan bertutur. Kedua, mengasah jurus-jurus sakti berkata-kata demi mendekatkan pembaca pada teks yang kami terbitkan. Ketiga, ekspresimen berbahasa.

Soal pertama, berakrobat menyelamatkan naskah penulis dari keterjungkalan penulis. Waduh, memangnya ada ya penulis yang terjungkal? Ada, banyak malah. Tidak semua penulis naskah adalah penulis. Banyak yang baru coba-coba menulis. Ada yang asal jadi, ada yang sok ilmiah, ada yang tulisannya menarik tapi isinya dangkal, ada yang isinya mendalam tetapi ulasannya seenteng kapas. Komplet. Tugas editorlah menyelaraskan tulisan tersebut sesuai dengan gagasan penulis.

Soal kedua, mengasah jurus-jurus sakti berkata-kata demi mendekatkan pembaca pada teks yang kami terbitkan. Selain aspek penulis, aspek penting yang menjadi perhatian utama editor penerbit buku adalah kepentingan pembaca. Setiap mengerjakan naskah dari penulis, kami selalu terlebih dulu menentukan siapa target pembaca naskah yang akan dibukukan tersebut. Karakteristik dan kebutuhan pembacalah yang menggiring kami untuk mengawal naskah suntingan ke sana. Bisa jadi tidak memenuhi 100% ekspektasi pembaca, tetapi kami harus mengusahakan untuk serapat mungkin mendekati. Maka, penting bagi kami untuk selalu belajar memahami kebutuhan pembaca. Supaya kata-kata, kalimat, judul, dan ilustrasi yang kami telorkan betul-betul menjadi kudapan lezat pecinta buku.

Soal ketiga, ekspresimen berbahasa. Ini yang dahsyat! Menjadi editor seperti kami, selain bertugas menjaga penggunaaan bahasa Indonesia secara baik dan benar, juga berkesempatan untuk berakrobat menciptakan istilah-istilah baru. Terlebih terhadap bahasa Indonesia yang baru berusia resmi 80 tahun, terhadap bahasa-bahasa lain di dunia pun editor boleh ambil bagian dalam penyempurnaan bahasa. Orang umum juga boleh.

eksperimen berbahasa? kenapa tidak

Minimal ketiga atraksi itu yang selalu kami pertontonkan di ring redaksi. Ada atau sepi penonton. Kalau ada penonton yang bersyukur, kalau tidak ada penonton, ya… bikin bagaimana caranya ada penonton.

Maka, ketika ada undangan sarasehan kebahasaan dan kesastraan oleh Balai Bahasa Yogyakarta, dengan girang kami menyambutnya. Apalagi ketika tahu siapa yang bakal jadi narasumber di sana: Prof Dr Sapardi Djoko Damono, guru besar FIPB Universitas Indonesia, dan St Sularto, Wakil Pemimpin Umum Harian Kompas.

Cultured dan Lettered

Secara umum, Prof Sapardi mengulas soal bermartabat dan berbudaya. Secara ringkas, Sapardi menyebut orang yang bermartabat sebagai berakhlak, berkesopanan, dan berbudi pekerti halus. Lewat pendidikan, terkhusus pengenalan aksara, manusia merintis martabatnya. Budaya lisan menjadi budaya sastra. Dengan sastra, manusia menciptakan kitab, teknologi, organisasi sosial, dan sistem pemerintahan yang berbeda dari yang dikembangkan masyarakat. Jadilah apa yang disebut kebudayaan.

Ulas Sapardi, dalam kebudayaan sejumlah bangsa, manusia bermartabat adalah manusia yang berpendidikan (kemampuan menguasai kesenian, membaca, dan menulis), sopan, dan berbudaya. Tulisnya:

Ciri penting dalam pengertian martabat adalah berbudaya, yang dalam bahasa Inggris disebut cultured. Orang yang cultured adalah juga yang lettered – melek huruf. Namun, pengertian lettered dalam hal ini tidak sekadar bisa membaca dan menulis yang sederhana. Orang yang sekadar bisa membaca karangan yang sederhana dan memahami kesenian yang tidak kompleks, misalnya, dianggap unlettered. Akibatnya, pembaca sastra dan peminat seni picisan, misalnya, dianggap uncultered. Orang yang cultured adalah yang mampu menghayati dan memahami hasil kebudayaan adiluhung, yang hanya bisa didapatkan dengan pendidikan yang tinggi tarafnya. Orang yang cultured pergi menonton orkes simfoni, membaca buku-buku yang berisi pemikiran dan perenungan yang rumit, dan berdiskusi mengenai berbagai perkara yang abstrak, yang kita kenal sebagai konsep-konsep.

Nelson Mandela, simbol perjuangan martabat manusia

Nelson Mandela, simbol perjuangan martabat manusia

Kena sekali!

Sebagai insan penerbitan, editor semestinya masuk dalam kategori cultured, tidak sekadar lettered. Untuk mengerjakan satu jenis naskah bertemakan tertentu, kami dituntut untuk memahami khasanah pengetahuan yang lebih luas. Juga perlu menyelami ranah pemikiran penulis untuk mendapatkan gagasan pokok yang dikuasai penulis tersebut. Untuk itu, kami mesti menyediakan diri berburu bacaan filosofis, menggali gagasan praksis, dan mengendapkannya sehingga menjadi ide-ide yang mentes.

Menjadi cultured editor berarti meminta kami untuk secara sadar terus mengasah diri dalam pemikiran, mempertajam diri dalam analisis, dan memoles diri dalam kreativitas. Meminjam pisau Sapardi, untuk layak disebut cultured editor, kami wajib rajin membaca buku-buku kajian dan, terutama, bisa menuangkannya kembali bahkan sampai menjadi tulisan yang enteng tanpa kehilangan bobotnya. Menulis, inilah tolok ukur seorang editor pantas disebut cultured atau tidak.

Mangkus, Sesudah Itu Mampus

Pernah mengenal, atau setidaknya mendengar kosakata “mangkus”? Menurut St Sularto, kosakata ini mencuat bersamaan dengan istilah “canggih”. Sayang, kata pertama tersebut tidak populer. Ia mati dini tanpa mendapatkan pesangon. Sedangkan kata “canggih” kian melejit di reriuhan kata-kata bahasa Indonesia baru.

Adalah Liek Wilardjo, pakar fisika dari UKSW (Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga) yang pertama-tama membungkus “mangkus”. Sularto memuji Wilardjo karena aktif menciptakan kosakata baru untuk berbagai disiplin ilmu.

Dalam konteks akrobat seperti yang dipaparkan di muka, kebiasaan Wilardjo untuk bereksperimen dengan kata-kata baru menarik untuk dijadikan model. Bukankah bahasa Indonesia masih terlalu muda untuk segera kita bakukan? Bukankah lebih dinamis jika bahasa Indonesia dibuka seluas mungkin terhadap segala kemungkinan kembang-surutnya? Supaya bahasa Indonesia makin canggih, tidak mampus!

St Sularto mencontohkan bagaimana Kompas ikut berbenah dalam berbahasa Indonesia. Berkendaraan tim bahasa, Kompas kembung-susut dalam atau berbahasa jurnalistik saja atau berbahasa baku semata. Sampai kemudian Kompas memerikan laras jurnalistik, sebuah laras yang hanya berlaku di media tulis, tidak di televisi, tidak di radio. Berbeda dengan laras ilmiah.

Pedomannya kiss (Keep It Short and Simple). Tidak perlu pakai tanda baca di belakang gelar atau frasa apositif. Boleh pakai kosakata lisan. Dan, paragraf boleh terdiri atas sebuah kalimat. Jahil!
(aakuntoa@gmail.com)

One response to “Berbahasa, Bersastra, Bermartabat

  1. Nuwun sewu, ndherek langkung, parmisyong, numpang pendapat ya Kung Kun

    ‘Terlebih terhadap bahasa Indonesia yang baru berusia resmi 80 tahun, terhadap bahasa-bahasa lain di dunia pun editor boleh ambil bagian dalam penyempurnaan bahasa.’

    Pemain akrobat biasanya memulai latihan-latihan keras sejak berumur 4 tahun…uhmmm 2 tahun malah. Jadi jika menjadi akrobatik profesional ketika umur 12 tahun, maka sepuluh tahun sudah ia telah berlatih dan berhak mendapat pengakuan dua jempol dari pelihatnya.

    Bahasa yang telah resmi berusia 80 tahun ini seharusnya sudah (min.) 6 x (diperoleh dari 80:12) lebih kaya ‘penampilan’ dari para akrobatik amatiran saat unjuk gigi. Tapi kok meng-Indonesia-kan kata gempil, kunduran trek, kejengkang, lithik, njumik, mbekisik, uthik (maaf semuanya dari kosakata bhs. jawa) susah sekali ya? Belum lagi Batak punya kosakata. Mbok ya yang ada diambil saja, jangan dibuang, masukin aja menjadi bahasa Indonesia, biar kita yang sudah kaya akan kata ini, tidak lagi rakus mengambil kata-kata dari bahasa Inggris.

    Belum lagi ini…bahasa gaul model capek dee, kasian deh lo atau cabut. Saya bakal jadi orang pertama yang setuju kata-kata itu ditambahkan di kamus, biar makin melengkapi ekspresi berbahasa kita. Coba saja Anda ‘eyd’-kan ‘capek dee’…capek kan nyarinya? Ngapain susah-susah nyari sampai hongkong, yang ada aja dipake…di pelosok negeri ini pun mungkin sudah tahu maksudnya.

    Ayo, Anda punya apa lagi untuk memperkaya kamus kita?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s