Ide untuk Sultan

Senin (3/11) pagi kemarin, Jogja diguyur hawa rintik-rintik. Belum hujan, namun gelap seperti enggan berbagi tempat dengan matahari. Tidak ada matahari sepanjang pagi.

Namun, Jogja tak pernah mendung oleh awan yang menggantung. Cuaca langit tak serta merta mempengaruhi cuaca di permukaan tanah. Jogja selalu bisa menghangati dirinya sendiri, juga menularkannya kepada yang lain.

Seperti kemarin. Di Kepatihan, Kantor Gubernur DIY, berlangsung bincang-bincang hangat antara Sultan Hamengku Buwono X dan pengurus PPPI (Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia) Pengda DIY. Galangpress menjadi anggota asosiasi perusahaan kreatif ini. Audiensi formal itu pun segera mencair begitu Sultan HB X mempersilakan kami mengungkapkan tujuan kunjungan.

Eddy Pujanto, Ketua PPPI Pengda DIY 2008-2011, ambil kesempatan. Kepada Sultan, ia melontarkan informasi, mulai dari personalia pengurus PPPI DIY yang belum lama terbentuk, ajang penghargaan iklan Pinasthika yang tahun 2009 esok akan memasuki penyelenggaraan tahun kesepuluh, hingga prestasi-prestasi perusahaan periklanan Jogja di kancah nasional.

Sembari mengulungkan buku-buku terbitan Galangpress, seperti Lanturan tapi Relevan, Cakap Kecap, Cerdas Beriklan, Jualan Ide Segar, Cara Pinter Bikin Event Organizer, dan Meraih Untung dari Spanduk Hingga Billboard, Eddy Purjanto menunjukkan betapa daya kreativitas orang Jogja begitu tinggi. “Soal kreativitas, setelah Jakarta, bolehlah kita tempatkan Jogja di nomor 2,” cetus Eddy yakin. Sultan mengangguk mengiyakan. “Buktinya,” masih sambil menunjukkan buku-buku Galangpress, “Buku-buku periklanan justru kebanyakan Galangpress yang menerbitkan, bukan penerbit Jakarta. Di antara buku-buku ini, sebagian teman-teman di sini yang menulisnya. Ini membuktikan bahwa di tengah kesibukan, orang periklanan Jogja masih menyempatkan waktu untuk menuangkan idenya.” Kali ini Eddy sambil memperkenalkan Arief Budiman (Petakumpet) sebagai penulis Jualan Ide Segar dan Sugeng Supriyanto (Aresta) sebagai penulis Meraih Untung dari Spanduk Hingga Billboard.

Menanggapi paparan tersebut, dengan sigap Sultan berkomentar, “Saya berharap kiprah teman-teman PPPI tidak hanya di DIY, namun meluas hingga kawasan Jawa Tengah Selatan hingga Madiun, syukur nasional. Bukankah iklan itu tidak mengenal batas?” Bagaimana potensi DIY sendiri? Sambil menghisap rokok kretek “Kraton nDalem” produksi perusahaannya, Sultan menekankan, “Jogja ini tidak punya apa-apa. Tidak punya kekayaan alam. Yang punya manusia, ide. Nah ini yang harus dikembangkan.”

Supaya bisnis periklanan di DIY bisa berkembang bagus, Sultan wanti-wanti, “Karakteristik Jogja harus dijaga. Di Jogja ini, kalau mau maju ya bersama-sama. Tidak boleh ada satu yang menonjol.” Lampu kuning itu disampaikannya sembari menunjukkan beberapa fakta. Di antaranya: warnet dan supermarket.

“Ada satu pengusaha warnet yang saya tegur karena di satu tempat bikin warnet dengan 40-an komputer. Ya jelas warnet lainnya mati. Saya bilang sama pengusaha itu, jangan samakan Jogja dengan Jakarta. Di Jogja ini kita mesti tumbuh sama-sama. Wong warnet itu ada yang buka cuma mahasiswa cari uang sampingan. Tolong dikurangi. Kalau tidak, saya akan minta walikota untuk mencabut izin Anda,” Sultan memberi contoh yang pertama.

Contoh yang kedua soal supermarket. Dikisahkannya, ketika ada pengusaha yang mengajukan pembukaan supermarket, Sultan mengajukan syarat: Sultan yang menentukan tempatnya, dan supermarket tersebut harus lebih banyak menjual produk lokal. “Di Makro itu, 80% produk lokal. Di Carrefour, 137 item produk lokal. Nah, gini kan semua dapat bagian,” timpal gubernur.

“Yang saya khawatirkan,” keluh raja kasultanan yogyakarta ini, “adalah maraknya minimarket. Mereka bisa buka di mana-mana. Izinnya gampang. Itu potensial merugikan pedagang lokal. Saya tidak bisa mengontrol itu.”

Kegundahan Sultan yang lain adalah bagaimana caranya mengangkat daya tarik Jogja ke permukaan. “Saya sedih kalau ada orang datang ke Jogja, ketika ditanya mau makan di mana, mereka selalu menyebut gudeg permata dan bakmi lain. Apa nggak ada yang lain gitu lho?

Menanggapi Sultan, Eddy mewakili kami mengajukan gagasan untuk perbaikan Jogja. Di antaranya pelatihan bagi aparatur pemerintah tentang bagaimana mengemas potensi Jogja sehingga menjadi daya tarik pariwisata. Eddy juga mengusulkan untuk menyegarkan kembali brand “Jogja” yang pernah dipopulerkan oleh pakar pemasaran Hermawan Kartajaya tersebut.

Lagi-lagi, menyelamatkan Jogja ya dengan ide. Karena idelah yang menjadikan keberadaan Jogja diakui bangsa-bangsa…(aakuntoa@gmail.com)

One response to “Ide untuk Sultan

  1. Makasih promonya Mas Kunto… Semakin dekat ke best seller semakin asyik deh🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s