Dilarang, Syuting “Lastri” karya Eros Djarot

Hidup berkesenian kembali terbelenggu di negeri ini. Tumben bukan oleh penguasa, tapi oleh massa yang merasa berkuasa. Kali ini, sebuah upaya mengemukakan gagasan lewat film dikerangkeng oleh tindakan atas nama “ketakutan”. Korbannya kita juga. Kisah dalam film ini diambil dari buku Penerbit Galangpress Suara Perempuan Korban Tragedi ’65 karya Ita F. Nadia:

Tulisan di bawah ini diundung dari sini.

Larangan Syuting film Lastri

Karena Masa Kini atau Masa Lampau?

Radio Nederland Wereldomroep

18-11-2008

Kepolisian Surakarta melarang syuting film berjudul Lastri, arahan sutradara Eros Djarot. Pihak polisi mengemukakan alasan perijinan untuk melarang syuting film yang diisyukan menyebarkan ajaran komunisme itu. Namun menurut Murtidjono, Ketua Dewan Kesenian Surakarta larangan itu lebih berkaitan dengan masa kini katimbang dengan masa lampau.

Murtidjono [MD]: Kalau dilarang oleh polisinya, saya kurang begitu tahu, tapi mungkin polisi film.jpgitu hanya berdasarkan permintaan elemen masyarakat tertentu. Jadi perkembangan terakhir yang terjadi, itu apakah benar dilarang oleh polisi atau tidak, saya kurang begitu tahu. Tapi seandainya dilarang oleh polisi mestinya dengan alasan mengganggu ketertiban umum. Mestinya kalau melarang keseniannya mereka tidak berani.

Radio Nederland Wereldomroep [RNW]: Tetapi ini kan juga merupakan salah satu prinsip demokrasi tentang kebebasan mengeluarkan pendapat?

MD: Ya, memang saya juga berpendapat begitu. Kenapa itu dilarang? Saya sendiri belum bisa bertemu dengan pihak polisi dan belum bertanya tentang itu. Kalau memang itu dilarang, kenapa? Tapi dugaan saya kalau itu dilarang mesti karena mengganggu ketertiban umum, mestinya begitu, dugaan saya ya.

RNW: Tetapi ini dikatakan bahwa bisa mengganggu ketertiban karena menyangkut masalah-masalah lampau, luka-luka lama katanya. Ini dimaksudkan apakah ada hubungannya dengan peristiwa 1965?

Syuting film nggak soal
MD: Kalau menurut kabar begitu. Tetapi kalau saya itu lebih kepada situasi politik kontemporer, bukan kepada itu.

RNW: Maksud bapak yang lebih konkrit tentang kondisi kontemporer itu?

MD: Ya, kan sekarang ini orang-orang di Indonesia mengatakan ada pasang naik kepada kekuatan politik Islam, ya kan? Dengan diberlakukannya undang-undang pornografi itu, ini sebuah kemenangan dari segmen atau elemen Islam, pertama itu.

Kedua, ini juga menjelang pemilu. Ketiga, Eros sendiri adalah tokoh partai politik tertentu, begitu lho. Nah, sehingga kalau saya, kan karena murni isi ceritra yang ada di situ, yang menyangkut pemberontakan PKI itu. Tetapi lebih kepada perpolitikan yang ada pada masa sekarang.

RNW: Apakah ini bisa dikatakan merupakan suatu larang dengan alasan yang direkayasa begitu pak?

MD: Sebenarnya bukan direkayasa, tapi ini sebuah keadaan saja dari elemen masyarakat tertentu untuk menggarap momen yang dilakukan oleh Eros. Artinya menggarap di dalam tanda petik.

RNW: Jadi menurut bapak konkritnya ini bukan karena menyangkut ajaran komunisme seperti yang didesas-desuskan. Tetapi justru topik yang sedang aktual yang timbul sekarang ini?

MD: Ya, di Indonesia sedang berlangsung gitu.

RNW: Jadi sebenarnya itu masalah perijinan syuting film itu sendiri nggak ada soal sebenarnya pak ya?

Badan Sensor Film
MD: Sebenarnya pembuatan film di Indonesia itu kalau sudah selesai kan masih ada lagi satu lembaga sensor ya, Badan Sensor Film. Urusannya dia, bukan urusan polisi atau bukan urusan masyarakat. Jadi pembuatan film biarin saja berjalan kemudian itu memang kalau mau ditayangkan di tingkat domestik, di Indonesia pasti akan dilihat oleh lembaga sensor film itu.

RNW: Ini filmnya belum dibikin, belum syutingnya saja baru mulai sudah dilarang gitu ya?

MD: Ya, sudah dilarang pembuatan filmnya. Ini kan lucu, ini kasus lucu. Di situ ada masyarakat yang menolak. Nah, masyarakat yang menolak ini apa sudah tahu skenario film? Jadi wah, ini aneh.

Polisi sebenarnya hanya karena ada orang berduyun-duyun, berteriak-teriak di kampung melarang pembuatan film, kemudian diminta oleh kelompok itu dan mestinya polisi juga takut kalau ada huru-hara di desa itu, lalu ya sudah dilarang saja syuting film itu.

RNW: Dari pihak budayawan ya, artis-artis di Solo itu, adakah reaksi mereka dalam menghadapi larangan yang semacam ini, karena ini merupakan suatu preseden yang tidak baik?

MD: Ya, ada kita sebenarnya nggak setuju dengan larangan itu. Ini preseden yang tidak bagus ya. Tidak demokratis dan filmnya belum jadi kok sudah dilarang gitu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s