Bahasa Indonesia = Bahasa Iklan

Oleh Lisa Esti Puji H <lisa_esti@yahoo.com>

editor Penerbit Indonesia Cerdas (Galangpress Group)

Gak usah mikir klo mo nelpon, kata monyet yang ada di iklan XL. Klo mikir berarti monyet,” ungkap pembicara Putu Fajar Arcana, editor SKH Kompas Jogja disambut tawa riuh peserta yang hadir pada acara Sarasehan Kebahasaan Forum Bahasa Media Massa (FBMM) di Balai Bahasa Yogyakarta, Selasa 2 Desember 2008.

Dalam acara yang bertema “Bahasa Media Massa: Realitas dan Harapan” tersebut, Can, panggilan akrab wartawan yang juga sastrawan tersebut, menjelaskan tentang kekuatan bahasa iklan yang bisa mengkonstruksi pikiran masyarakat saat ini hingga berpengaruh ke sikap hidup. Misal, kata “diskon”, adalah kata emas bagi kaum ibu untuk berbelanja, sedangkan bagi para suami adalah kata yang menakutkan, karena harus menyediakan uang untuk istrinya berbelanja. Selain itu, kata “cumi” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti salah satu jenis hewan yang berada di laut. Tetapi di dunia iklan, “cumi” merupakan akronim dari kata cuma mimpi, cuma minjam, dll. “Akronim ini juga sering diucapkan anak saya ketika ngobrol sama orangtuanya, misalnya cukup mahal Mi. Sungguh memprihatinkan memang, bahasa Indonesia sudah tidak baku lagi tetapi malah diplesetkan dengan berbagai makna yang bukan seharusnya,” tambahnya.

Sementara pembicara Edi Setiyanto selaku peneliti Balai Bahasa Yogyakarta menjelaskan, bahwa bahasa iklan merupakan salah satu bentuk hasil kreatif para pengiklan, agar konsumen bisa membeli produknya, biar pun bahasanya sudah menyalahi teks dan konteks. Inilah perkembangan dunia kebahasaan saat ini yang semua serba tidak laras, yaitu mempunyai makna ambigu. Misalnya, seperti judul headline berita “Preman Hajar Massa”, siapa yang dihajar, preman atau massanya? Ternyata setelah membaca berita secara keseluruan, yang dihajar adalah premannya. “Ini selain ambigu juga salah pesan. Penyebabnya adalah keteledoran pelaku media dalam memproduksi kata dan kalimat,” jelasnya.

Hal yang dipaparkan oleh dua pembicara di atas mengundang pertanyaan dari AA Kunto A, tukang sunting dari penerbit Galangpress Jogja. Lontarnya, “Bagaimanakah membakukan bahasa yang tidak baku di zaman yang mengarah ke serba tidak baku saat ini? Dan apakah ada polisi bahasanya?” Selain itu, Suhari salah satu anggota MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Bahasa Indonesia Bantul melanjutkan pertanyaan, bagaimana peran Balai Bahasa dalam menghadapi perubahan ini? “Bagi para guru dituntut kesiapsiagaan dalam menyiasatinya, agar para muridnya tetap berpikir positif. Karena saat di sekolah pun, murid sudah berbahasa iklan, misal klo mau pinter minum tolak angin,” jelasnya.

Kemudian, Edi menjawab pertanyaan tersebut, bahwa Balai Bahasa saat ini bukan menjadi polisi bahasa. Tetapi hanya sebagai pengamat terhadap perubahan kebahasaan, dan kemudian memberikan solusi agar perubahan tersebut bisa tetap di jalannya. Sehingga, ia mengharapkan agar siapa pun yang mengetahui kebenaran tentang kebahasaan bisa menjadi polisi bahasa.. Termasuk para pengajar di sekolah, yang diharapkan bisa menjadi penjaga akan kebakuan bahasa Indonesia.

Ia juga menjelaskan, bahwa saat ini terjadi pergeseran makna, bahasa Indonesia bukan lagi sebagai bahasa identitas, melainkan sebagai bahasa iklan. Balai bahasa di Yogyakarta dan Pusat Bahasa di Jakarta saat ini sedang menyusun Rancangan Undang-Undang tentang Kebahasaan. Semoga bisa menjawab pertanyaan semua peserta yang hadir, dan semoga bisa menjadi pedoman media massa, guru, peneliti atau siapapun yang ingin tetap melestarikan bahasa Indonesia.

Dalam acara ini, juga disosialisasikan rencana pendirian Forum Bahasa Media Massa (FBMM) Cabang Daerah Istimewa Yogyakarta. Forum ini beranggotakan guru, editor, wartawan, dan pemerhati bahasa. Semoga dengan forum ini, bisa semakin detail dalam membahas dan menemukan solusi untuk masalah kebahasaan Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s