Pulsa Vs Buku

Oleh: Mardiyanto <mardi_csc@yahoo.co.id>
Oleh-oleh dari Obrolan Sabtu Petang (29 Nov) di Komunitas Mishbah


Kabar kurang sedap “menggoyang” kota ini, setelah beberapa waktu lalu tim yang terdiri dari Fakultas Ekonomi UPN “Veteran” Yogyakarta bekerjasama dengan Bank Indonesia (BI) Cabang Yogyakarta mempublikasikan hasil temuannya. Dalam survei dengan responden melibatkan 300 (53% laki, 47% perempuan usia 21-25 tahun) mahasiswa dari sekurangnya 30 PTN/PTS. responden PTN/PTS, menunjukkan bahwa setiap mahasiswa menghabiskan uang rata-rata Rp 90.200 per bulan untuk belanja pulsa telepon.

Sementara pengeluaran untuk buku pelajaran Rp 39.750 dan alat tulis Rp 8.100. Survei ini bersumber dari para mahasiswa dari berbagai strata pendidikan, yakni diploma 3, strata 1 (S1) dan S2, 74% pendatang dan 26% mahasiswa asal lokal Yogyakarta. Survei memfokuskan ihwal biaya hidup mahasiswa Di Yogyakarta pada 2008. Ditaksir jumlah mahasiswa di Kota Gudeg sampai akhir tahun ini pada kisaran 235.000 hingga 300.000. Survei menunjukkan 99% mahasiswa memiliki telepon seluler alias handphone, bahkan 36% mahasiswa memiliki lebih dari 1 telepon seluler.

Paparan lengkapnya, pengeluaran uang untuk pulsa telepon seluler (7%) menempati urutan belanja ke-4 di bawah uang pondokan, makan-minum, dan transportasi. Nilai belanja pulsa masih jauh lebih tinggi dibanding biaya internet (rata-rata Rp48.000 per bulan), kesehatan/perawatan diri (Rp67.300 per bulan), rekreasi (Rp89.900 per bulan).

Yang mengejutkan banyak pihak, pengeluaran untuk belanja buku justru posisi ke-2 dan alat tulis ke-1 dari urutan terendah. Bahkan, dana beli buku masih lebih rendah dibanding keperluan belanja (rata-rata Rp63.350), fotokopi (Rp40.300), alat tulis yang hanya Rp 8.100. Bagi penulis hasil survei tersebut merupakan informasi yang penting jika tidak ingin dikatakan ”memprihatinkan” bagi kota pelajar dan budaya ini. Sekaligus membuktikan jika buku bukan lagi kebutuhan mendesak bagi mahasiswa.

Krisis Modernitas

Kasus ”kalahnya buku dengan pulsa” sebenarnya bila kita telisik lebih saksama merupakan buah dari krisis modernitas. Perlu kita sadari modernitas selalu ditandai dengan industri dan teknologi yang kian maju. Hal ini memungkinkan masyarakat industri semakin bertambah kaya, baik secara kuantitas maupun kualitas. Namun keadaan yang baik ini menurut Herbert Marcuse adalah keadaan yang terlihat baik dari segi luarnya saja. Sesuatu yang menipu karena pada kenyataannya peningkatan kualitas dan kuantitas kesejahteraan manusia hanya dimiliki oleh lahiriah saja. Manusia pada masyarakat industri dewasa ini merupakan manusia yang tidak utuh nilai-nilai kemanusiaannya, yang terjebak dalam hedonisme. Kemajuan di bidang material pada masyarakat ini belum tentu membawa kemajuan di bidang lain seperti moral, kebudayaan serta kehidupan beragama.

Masyarakat modern juga ditandai dengan semakin tingginya waktu untuk bertukar informasi, baik dengan media komunikasi maupun dengan pemakaian teknologi komunikasi seperti telepon dan komputer. Sayangnya, banyak orang lantas hanyut dan terbius dengan berbagai teknologi yang justru mengakibatkan hidup mereka kurang produktif, pemalas, senang memanjakan diri, dan jatuh kepada kebutuhan-kebutuhan semu/palsu. Marcuse (2000) menyebutkan bahwa Kebutuhan palsu diciptakan oleh pihak lain yang kemudian oleh pihak tersebut diinternalisasikan dalam pikiran kita sehingga kita tidak menyadari lagi apakah memang kita benar-benar membutuhkan apa yang ditawarkan oleh pihak tersebut.

Hal ini rupanya selaras dengan survei tadi yang menyebut pengeluaran untuk internet, kesehatan/perawatan diri, rekreasi, dan pulsa jauh di atas pengeluaran membeli buku. Nyaris pengeluaran-pengeluaran tersebut habis untuk memanjakan diri yang belum tentu sangat dibutuhkan oleh mahasiswa. Sementara untuk penguatan ilmu (value) yang sejatinya ”ruh” mahasiswa dilupakan. Maka boleh jadi budaya literasi di kalangan mahasiswa juga bernasib buruk.

Coba, hitung deh pengeluaran kita, apakah bernasib sama dengan dunia mahasiswa Jogja?

One response to “Pulsa Vs Buku

  1. Survey itu tdk menunjukkan apapun. Tidak perlu ada keprihatinan berlebihan. Belanja pulsa lebih tinggi dari belanja buku sudah wajar. Kebutuhan komunikasi kan bukan hal yang buruk. Anggaran belanja untuk komunikasi lebih tinggi dari anggaran belanja untuk buku bukan berarti kebutuhan akan buku jauh lebih rendah. Itu hal yang sama sekali berbeda.
    Pikir aja ndiri…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s