Andaryoko “Supriyadi” Wisnuprabu Wafat

tokohnya sudah mati, bukunya yg berbicara

tokohnya sudah mati, bukunya yg berbicara

Sesuai keinginannya, sesudah semua ia beberkan kepada khalayak, ia siap mati. Andaryoko “Supriyadi” Wisnuprabu menggenapi niatnya. Rabu (3/6) malam kemarin ia memungkasi hidupnya di usia 89 tahun. Di kamar mandi ia terjatuh untuk terakhir kalinya. Upaya menolongnya ke rumah sakit juga menjadi pertolongan terakhir. Andaryoko wafat di rumahnya di Kawasan Pedurungan, Semarang.

Setahun yang lalu, mengingat janjinya itu, ia mengusik ketenangan Redaksi Galangpress. Dalam perbincangan dengan Anton Wahyu, Kepala Toko Buku Gramedia Pandanaran, Semarang, ia mengungkapkan informasi yang menghenyak: “Saya Supriyadi PETA.”

Tak mudah menelan informasi itu. Ada keraguan besar untuk mengiyakan penuturan lelaki sepuh bermuka lancip itu. Jangan-jangan ia sama saja dengan “Supriyadi-Supriyadi” sebelumnya yang sekadar bikin sensasi supaya terkenal. Atau ingin mendapatkan keuntungan material lainnya? Keraguan itu menghantui kami. Naluri menyelidiki pun bangkit. Sebab, jika pengakuannya benar, peta sejarah negeri ini akan berubah. Sebaliknya, jika tak sepenuhnya benar, tuturan-tuturannya tetap layak disertakan dalam catatan kaki narasi sejarah negeri ini.

Dr Baskara T Wardaya, sejarawan yang sekaligus Direktur Pusat Sejarah dan Etika Politik (PUSdEP) Universitas Sanata Dharma Yogyakarta merangsek ke depan. Penulis buku Bung Karno Menggugat (Galangpress, 2007) dan Membongkar Supersemar (Galangpress, 2007) ini pun lantas memimpin tim ekspedisi penelusuran informasi. Berbekal sumber-sumber sejarah yang sudah di tangan, Dr Baskara selama sekira 2 bulan mengorek keterangan Andaryoko. Selain mengunjungi rumah Andaryoko di Semarang, Dr Baskara bersama Tim Redaksi Galangpress juga mengusung Eyang Andar –demikian tokoh kebudayaan Sobokarti ini biasa disapa– ke Blitar untuk napak tilas di lokasi pemberontakan PETA meletus. Tidak hanya itu, untuk menguji pengetahuannya tentang Soekarno, kemerdekaan RI, dan perjalanan republik ini, Andaryoko juga kami hadirkan sebagai pembicara dalam sebuah seminar di kampus USD. Kepada forum tidak diperkenalkan siapa sosok satu ini. Hanya diperkenalkan sebagai pelaku sejarah. Pun beliau kami pertemukan dengan Soekardjo Wilardjito, mantan pengawal Presiden Soekarno yang juga penulis Mereka Menodong Bung Karno (Galangpress, 2008). Keduanya mengaku saling mengenal.

Penelusuran 2 bulan itu bukan tanpa keraguan. Selain banyak menumpahkan informasi yang valid dan sesuai dengan narasi utama yang sudah berterima, ada juga informasi Eyang Andar yang meragukan. Kami pun dihantui kecurigaan: dia mengada-ada, dia lupa, atau memang itu yang sebenarnya terjadi?

Baiklah. Bukan tugas kami untuk menjawab pertanyaan itu. Terlebih, bukan simpulan kebenaran yang harus kami hadirkan. Tugas kami adalah menelusuri jalan pencarian kebenaran itu dengan kendaraan pertanyaan dan data-data sejarah terdahulu. “Biarlah publik pembaca yang menilai dan merumuskan kebenarannya. Tugas saya adalah meneliti,” tegas Dr Baskara saat buku itu benar-benar diluncurkan pada Agustus 2008.

Benar saja. Publik gempar. Media massa silih berganti menyiarkan bagaimana tanggapan pemerintah, sejarawan, dan masyarakat umum tentang pengakuan Supriyadi dari Semarang ini. Ada yang yakin, ada yang menampik, ada yang ragu-ragu. Narasi sejarah memasuki babakan baru. Ada sejarah lisan yang patut didengar rupanya. Ya, sejarah versi resmi perlu dikritisi.

Kini, Andaryoko Wisnuprabu telah tiada. Supriyadi telah mati. Ia tak lagi bisa membela diri. Syukurlah, tuturannya sudah direkam sebagai buku yang menyejarah. Bangsa ini masih punya tugas untuk menuntaskan sejarahnya. Kitaterus mencari Supriyadi.[aaka/05062009]

Berita dari Tempo Interaktif:

Andaryoko ‘Supriyadi’ Meninggal

Kamis, 04 Juni 2009 | 16:25 WIB

AndaryokoTEMPO Interaktif, Semarang: Andaryoko Wisnuprabu, tokoh yang mengku dirinya sebagai Supriyadi, pemimpin pemberontakan pemuda Pembela Tanah Air (PETA), meninggal. Kakek 89 tahun ini  tiada pada Rabu malam di rumahnya Jalan Mahesa Raya 1, Pedurungan, Semarang.

Akso Prabu Wisnuaji, salah satu putra Andaryoko, menuturkan almarhum dalam keadaan sehat sebelum menghembuskan nafas terakhir. Pada pukul 21.30  Andaryoko terjatuh ketika hendak masuk kamar mandi dan langsung tak sadarkan diri. “Bapak meninggal dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Umum Ketileng,” kata Akso. Kamis (4/6) siang, ratusan pelayat menghantarkan jenazah ke Tempat Pemakaman Umum Pedurungan.

Tahun lalu Andaryoko membuat pengakuan kontroversial sebagai Supriyadi, pemimpin pemberontakan PETA. Oleh sejarawan Universits Sanata Dharma Yogyakarta, Baskara T. Wardaya, pengakuan ini ditulis dalam sebuah buku berjudul Mencari Supriyadi.

Baskara yang ikut melayat menyatakan, ada yang lebih penting dari sekedar kontroversi pengakuan Andaryoko sebagai Supriyadi. “Beliau telah menyajikan narasi lain tentang sejarah Supriyadi dluar narasi resmi pemerintah,” ujarnya. “Mengkaji ulang narasi sejarah, jauh lebih penting dibanding kontroversi itu sendiri”.

Ia menambahkan, ada tiga hal yang membedakan antara Andaryoko dengan tokoh lain yang pernah mengaku sebagai Supriyadi. Jika pengaku Supriyadi yang lain hanya menonjolkan sejarah diri sendiri, Andaryoko membicarakan sejarah Indonesia.

Jika pengakuan yang lain diimbangi dengan kekuatan magik (klenik), Andaryoo sangat rasional. Jika yang lain hanya menceritakan pemberontakan PETA, Andaryoko bisa menghubungkan sejarah PETA dengan sejarah nasional dan internasioanl.

Saat peringatan hari lahir Pancasila 1 Juni lalu, kepada Akso, Andaryoko mengaku prihatin dengan belum ditegaknya Pancasila sebagai dasar negara. Masing-masing pasal belum dilaksanakan secara konsisten.

Diakhir hayatnya, Andaryoko aktif sebagai Ketua Umum Perkumpulan Seni dan Budaya Sobokarti, Sesepuh Manengku (penghayat Kejawen) dan aktif di organisasi pejuang Pertempuran Lima Hari di semarang. Almarhum meninggalkan empat putra, delapan cucu dan enam cicit.

SOHIRIN

Topik :

Komentar Anda (3) :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
  • Good job my hero

    Sebenarnya saya meyakini kalau beliau benar-benar pak suryadi, dari foto Supriyadi dan facenya pak Andaryoko ada kemiripan, disisi lain pemerintah atau orang lain tidak percaya karena dirusak oleh orang-orang yang mengaku supriyadi sebelumnya, saya yakin pak Andaryoko tidak perlu mengenal siapa dirinya, intinya adalah Kapan Bangsa ini menjalankan butir-butir dari pancasila…? karena bangsa ini belum sepenuhnya menjalakannya apa yang dikatakan pak Andaryoko. Good Job My Hero..tugas mu telah selesai, saatnya anda menerima penghargaan dari allah swt, Tuhan Yang Maha Esa.
    Selamat Jalan My Hero jasa mu tak akan pernah saya lupakan sampai sepanjang masa.

    Wasalam

    Suhendra, Jakarta, 04/06/2009 20:57:40 wib

  • Selamat jalan … pak andar

    Walaupun kami generasi muda … tidak mengenal Bapak. Tapi Bapak Andar adalah bagian dari sejarah Indonesia. Walau keberadaan Bapak belum diakui tapi… saya yakin Bapak Andar ikut berjuang untuk negara ini. Selamat Jalan Pak…. Selamat beristirahat dengan tenang disana.

    Pure, Sidoarjo, 04/06/2009 20:33:33 wib

  • Selamat jalan bapak…

    saya yg mengenal scr pribadi di tahun 1980 an,saya mengucapkan duka dan keluarga yg ditinggalkan merelakan kepergiannya.Amin

    Toto, Sydney, 04/06/2009 17:24:03 wib

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s