Drop Out Bukanlah Akhir dari Segalanya

mark billionaire

Ukuran buku: 15x23 cm,Harga: Rp 35.000,00, Best Publisher

Di lingkungan pergaulan kampusnya, predikat sebagai mahasiwa drop out mungkin masih melekat dalam diri Mark Zuckerberg. Si jenius Mark memutuskan berhenti kuliah dari fakultas psikologi Universitas Harvard untuk selanjutnya memilih menjadi teknopreneur. Sebuah keputusan berani tapi tidak nekad. Ia rela meninggalkan almamater yang memiliki reputasi dunia karena merasa sudah mampu membidani perusahaan raksasa. Perusahaan yang terbukti jadi trendsetter jejaring sosial yakni Facebook.

Mark tak mau mengandalkan kekayaan orang tuanya. Awalnya, Mark memodali perusahaan Facebook dari koceknya sendiri. Tentu saja, uang itu berasal dari tabungannya. Bersama beberapa teman dekat sesama penghuni asrama Kirkland, Mark menggalang modal patungan untuk membangun Facebook. Mark merintis Facebook sejak dia duduk di bangku kuliah. Ia bersedia mengurangi waktu tidurnya semata untuk membesarkan Facebook. Kerja kerasnya itu berbuah manis, meski dalam prosesnya mengalami fase jatuh bangun. Tak bisa disangkal, kesuksesan Facebook tak lepas dari kekuatan tekad, ambisi yang kuat ditambah kerja sama tim yang padu antara Mark dengan sahabat-sahabatnya. Lantaran berhasil menghimpun user dengan jumlah yang fantastis, Facebook pun dilirik investor kelas wahid, salah satunya Microsoft.

Mulanya, kantor Facebook hanya berupa rumah, tapi sekarang sudah berkantor di gedung yang megah. Sungguh mencengangkan, buah pencapaian Mark. Usia baru 25 tahun, tapi dia sudah dinobatkan sebagai milarder termuda sepanjang sejarah yang kekayaannya bukan dari warisan orang tua. Apa yang menjadi kunci sukses Mark hingga ia bisa kaya raya? Mark mengatakan kunci kesuksesannya adalah mencintai pekerjaan, jauhi zona nyaman, dan terus kreatif. Makanya, demi menyuburkan kreativitas, ia mendisain ruang kantor Facebook layaknya ruang bermain.

Ide-ide segar Mark Zuckerberg terurai jelas di buku The Dropout Billionaire. Di situlah, kita bisa tahu pola pikir, strategi bisnis Mark hingga intrik-intrik internal dan eksternal Facebook. Dengan membaca buku ini, siapa tahu mind set berpikir kita semakin hidup dan tak takut dalam berspekulasi. Perlu diingat, idealisme ala Mark merupakan investasi yang tak ternilai. Untuk itu, bukan tak mungkin dengan membaca buku ini, teknopreneur muda akan tumbuh subur di bumi Indonesia. Siapa tahu, tandingan Mark Zuckerberg akan muncul dari tanah air kita tercinta. Dan mahasiswa drop out sangat berpotensiĀ  untuk menyabet peluang emas itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s