Dokter, profesi berat yang membahagiakan

Dokter Toto bersama editor The Doctor Noni Rosliyani

Dokter Toto bersama editor The Doctor Noni Rosliyani

Selalu menggairahkan berbincang-bincang soal kehidupan seorang dokter. Demikian pula perbincangan semalam.

“Tadi pagi saya bangun pukul 5.30. Ada 18 misscall di HP saya. Ah, rupanya saya ‘tidur mati’ sehingga tak terbangunkan oleh dering telepon. Maklum, saya baru pulang tengah malam. Pukul 6.30 saya sudah harus di rumah sakit hingga malam. Sebelum ke sini saja saya belum selesai menangani pasien. Namun terpaksa saya tinggal karena acara ini juga penting. Sesudah ini, saya kembali lagi ke rumah sakit,” papar dokter Triharnoto di hadapan pengunjung TB Gramedia Sudirman, Jogja.

Triharnoto, yang akrab dipanggil Toto, adalah dokter spesialis ilmu penyakit dalam (SpPD) yang sehari-hari bertugas di RS Panti Rapih Yogyakarta. Dan apa yang diceritakannya adalah aktivitas keseharian yang dilakoninya. Tidak Senin, tidak Minggu. Tidak ada warna merah di kalender hidupnya. Jam kerjanya pun tidak terbatas. Kerap, ia bekerja dari pagi sampai pagi.

“Orang sering melihat dokter ini enak, bersih, juga kaya. Mereka tidak melihat di balik itu semua, kehidupan dokter itu tidak normal. Sampai di rumah pun kadang-kadang masih ditelpon rumah sakit karena ada pasien yang membutuhkan penanganan cepat. Dan kami tidak boleh mengelak. Untuk pekerjaan seperti ini, tak pantaskah jika kami mendapatkan bayaran yang layak?” lanjut Toto.

Rm John, OMI: dokter Toto melibatkan pasien dlm mengambil keputusan. Saya beruntung menjadi pasiennya

Rm John, OMI: dokter Toto melibatkan pasien dlm mengambil keputusan. Saya beruntung menjadi pasiennya

Toto tidak sedang mengeluh. Ia mengaku bahagia dengan profesinya. Tak ada sedikit pun sesal di hatinya. Matanya tetap berbinar-binar. Duduknya tegak. Suaranya lantang.

Toto hanya sedang membagikan pengalaman betapa kompleks kehidupan seorang dokter. Ia bercerita dengan bangga, dengan nada yang selalu terjaga. Lewat cerita yang ia susun apik di buku The Doctor: Catatan Hati Seorang Dokter (Pustaka Anggrek, 2009), ia hendak berbicara dari hati ke hati tentang indahnya kehidupan di balik jas putih dan stetoskop. Ia berharap, masyarakat bisa lebih paham soal kehidupan dokter. Kepada koleganya pun ia wanti-wanti agar mereka juga makin belajar dari pasien. Maka, baik dokter maupun pasien mesti sama-sama belajar, sama-sama saling memahami.

“Di benak pasien, datang ke dokter itu membawa ekspektasi ingin sembuh. Sesederhana itu. Di benak mereka, mau diapain juga silakan asal sembuh,” ungkap Toto menempatkan posisi pasien di hadapan dokter. “Sedangkan, seorang dokter bekerja di bawah kendali medical science, yang segala sesuatu sudah ada prosedurnya. Apalagi, di Indonesia, kiblat ilmu kedokteran kita ke ‘barat’, yakni menuntut segala sesuatu ada alasannya,” terang Toto mengenai posisi dokter. “Inilah yang bikin nggak ketemu,” sergahnya. “Masing-masing dengan tujuannya sendiri-sendiri.”

Dengan buku ini, Toto berharap ada titik temu yang mendamaikan dokter dengan pasien. “Sebenarnya, dokter dan pasien itu memiliki tujuan yang satu dan sama, yakni kesembuhan. Perbedaan cara pandanglah yang menyebabkan keduanya selalu berada pada posisi yang berhadap-hadapan. Kita harus optimis bahwa keduanya bisa bertemu,” harap lulusan Fakultas Kedokteran UGM yang pernah studi di Scotland UK dan Australia ini. [aaka/10082009]

AA Kunto A memandu bincang-bincang dengan Dokter Toto

AA Kunto A memandu bincang-bincang dengan Dokter Toto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s