Workshop Film Dokumenter Bersama Fajar Nugros

gaya fajar nugros. foto: wahyu sigit

gaya fajar nugros. foto: wahyu sigit

Orang muda gudangnya kreativitas. Pada mereka, imajinasi masih telanjang, belum dibalut benang-benang norma yang membelenggu. Mereka masih liar, masih banyak ruang kosong. Mereka, sebagai anak zaman, punya cara sendiri untuk mengisi ruang itu.

Film dokumenter adalah salah satu tuturan yang mereka pilih. Media ini mereka pilih untuk merekam zamannya. Sebagai mata. Sebagai telinga. Sebagai hati.

Semangat itulah yang mewarnai workshop Cara Pinter Bikin Film Dokumenter di SMA Albertus, Dempo, Malang, Sabtu (3/10). Bekerja sama dengan Penerbit Indonesia Cerdas (Galangpress Group), workshop ini diikuti oleh 120 siswa kelas IPS. Fajar Nugroho, yang populer dengan nama Fajar Nugros, penulis buku dengan judul yang sama dengan tema acara, langsung hadir membimbing para siswa.

Nugros, yang mengawali karir sebagai sutradara film dokumenter secara otodidak sejak kuliah di Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, menemani para siswa untuk mengenal lebih dalam seluk-beluk perfilmdokumentarian. Ada 3 bagian yang ia sampaikan: pemahaman dasar film dokumenter, pemutaran film “Manusia Setengah Dewa”, dan pengenalan tentang kamera.

peserta melimpah. foto: wahyu sigit

peserta melimpah. foto: wahyu sigit

Di antara materi yang ia sampaikan, hal pokok yang menjadi penegasan Nugros adalah tentang betapa ide itu begitu mahal, plus betapa penting melakukan riset. “Proses pembuatan film dokumenter sangat ditentukan oleh kematangan bagian ini. Soal kamera ntar deh, itu gampang. Tapi perencanaan dan riset itu yang utama. Sehingga, misalnya bicara soal budgeting, semua terencana. Tidak ada yang tak terencana,” sutradara yang sering bekerja sama dengan sutradara Ayat-Ayat Cinta Hanung Bramantyo ini.

Menanggapi pancingan tersebut, antusiasme siswa sangat luar biasa. Sejak awal, gairah mereka untuk terlibat dalam pelatihan langsung terasa. Nugros, saat jeda makan, mengamini ini. “Anaknya pinter-pinter,” pujinya. Ide-ide pun bersahutan. Ada yang datar, ada yang serius, ada yang lucu, ada yang horor. Selain karena pinter, seluruh siswa memang sudah membeli dan membaca buku yang ditulis Nugros.

aa kunto a membuka acara. foto: wahyu sigit

aa kunto a membuka acara. foto: wahyu sigit

Salah satu tema horor yang mereka lontarkan adalah “lorong berdarah”. Tema ini muncul berdasarkan cerita-cerita mistik yang berseliweran di sekolah.

Ini faktanya. Di sebuah lorong yang menghubungan sekolah dengan pastoran,  terdapat ubin kuning yang ternoda bercak-bercak merah. Mirip darah. Persis di balik pintu masuk menuju pastoran. Bukan di jalan umum, sebagaimana tertera di tulisan samping pintu. Toh, ceritanya  sudah seperti menjadi milik umum.

Konon, bercak darah itu tidak bisa dihilangkan. Bahkan, ketika ubin tersebut diganti dengan yang baru, ubin yang semula bersih pun akan kembali ternoda darah. Bercak merah di atas ubin kuning.

Tak ada penjelasan resmi tentang cerita ini. Maka, ide “lorong berdarah” ini untuk merekam penjelasan-penjelasan dari pihak-pihak yang bisa dikutip pernyataannya.

Nugros membantu siswa mempertajam ide ini. Lewat pembuatan story line, Nugros menunjukkan bagaimana ide ini bisa menjadi film dokumenter yang kuat, tak sekadar menjadi film horor.

“Yang perlu dicatat, kekuatan film dokumenter ada pada FAKTA dan MOMENTUM. Latihannya adalah kalau ada kejadian-kejadian unik di sekitar kita rekam saja. Suatu saat bisa berguna. Sebab, momentum itu mahal, nggak bisa diulang,” tandas Nugros. “Dan, film dokumenter adalah pesan untuk masa depan,” simpulnya. [aaka/03102009]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s